CMR: Konsumen Indonesia Mencari Pengalaman Audio-Visual yang Imersif di Neo Normal

Ilustrasi

JAKARTA-Berdasarkan studi baru dari Cyber Media Research (CMR), firma riset dan penasihat pasar teknologi terkemuka, bahwa konsumen Indonesia kini memprioritaskan kualitas audio sebagai pendorong utama dalam pembelian smartphones lebih unggul dari kualitas kamera, dan tepat setelah daya tahan baterai.

Studi ini menemukan bahwa konsumen Indonesia yang lebih menyukai ‘audio quality’, kemungkinan didorong oleh waktu yang dihabiskan berjam-jam selama di rumah saja.

Di semua parameter, satu dari setiap lima pengguna menyatakan kualitas audio sebagai faktor terpenting saat memilih smartphone mereka. 

‘The Quest For Immersive AudioVisual Experiences’ adalah studi komprehensif oleh CMR yang mensurvei 1500 konsumen Indonesia, di seluruh kelompok usia 18-45 tahun, dan memberi gambaran perilaku konsumen Indonesia, prioritas yang diberikan pada kualitas suara, dan prioritas konsumen kedepannya. 

Pada tahun yang belum pernah terjadi sebelumnya, konsumen Indonesia menikmati beragam hiburan audio dan video, dalam bahasa internasional maupun lokal. Temuan studi yang menarik ini memberi kami dasar untuk lebih memahami aspirasi konsumen yang terus berkembang. Di seluruh kasus penggunaan, mulai dari konsumsi konten hingga konten buatan pengguna dan game seluler, konsumen terus mencari, dan bersedia berinvestasi dalam pengalaman audio-visual yang ditingkatkan dan imersif,” kata Prabhu Ram, Head-IndustryIntelligence Group, CMR. 

Baca :  Lion Air Akan Luncurkan “Lion Entertainment”

Berdasarkan pola konsumsi audio, konsumen Indonesia dapat disegmentasikan menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

Digital Natives yang menghabiskan >20 jam setiap minggu (28%) 

Digital Dependents yang menghabiskan 10-20 jam setiap minggu (43%) 

Digital Laggards yang menghabiskan < 10 jam seminggu (29%) 

Pandemi memberikan dorongan ke platform streaming konten, melintasi genre, termasuk konten episodik danvideo konten buatan pengguna di media sosial.

Selama beberapa tahun terakhir, munculnya smartphone yangterjangkau dan bernilai uang yang telah memicu konsumsi konten pada saat bepergian maupun di rumah. 

Berikut adalah beberapa temuan studi yang paling menarik: 

Pentingya kualitas audio.

Orang Indonesia menganggap kualitas audio sebagai salah satu faktor terpenting dalam menentukan pembelian smartphone berikutnya dengan skor 68 dari 100, diikuti oleh Kamera di 65. Daya tahan baterai yang merupakan faktor terpenting dengan skor 71. 

Pengguna smartphone yang mengkonsumsi audio sebagian besar melalui: 

menonton video – film, konten OTT, atau konten buatan pengguna di jejaring sosial (86%), mendengarkan musik di platform OTT audio populer (84%). 

Hollywood merupakan konten yang paling disukai disusul dengan konten Korea.

Tiga dari setiaplima pengguna (58%) lebih menyukai konten Hollywood dalam audio/video di smartphone dan setengah dari pengguna (52%) lebih menyukai konten Korea.

Orang Indonesia lebih terbiasa dengan masalah audio.

Dua dari setiap tujuh pengguna menghadapi beberapa masalah dalam audio smartphone secara teratur. Masalah yang dihadapi antara lain Audio terlalu lemah (14%) 

Audio terlalu keras (10%) 

Dialog tidak jelas (8%) 

Audio terdistorsi (7%) 

Konsumen Indonesia percaya bahwa Dolby Atmos adalah kunci untuk pengalaman audiovisual yanglebih baik. 

87% pengguna setuju bahwa Dolby Atmos akan meningkatkan pengalaman mendengarkansecara keseluruhan. 

77% pengguna setuju bahwa pengalaman bermain game mereka dapat ditingkatkan denganDolby Atmos. 

62% pengguna setuju bahwa Dolby Atmos akan mengarahkan mereka untuk memutuskanberlangganan musik / video. 

Metodologi Studi: 

Baca :  Starup Milik Kaesang Ajak Grab Genjot Bisnis Kuliner

The Quest For Immersive AudioVisual Experiences’ adalah studi komprehensif oleh CMR yang mensurvei 1500 konsumen Indonesia, di seluruh kelompok usia 18-45 tahun.

Penelitian dilakukan pada awal Juni 2021 di enam kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Samarinda, dan Makassar. 

Untuk hasil berdasarkan sampel yang dipilih secara acak dengan ukuran ini, ada keyakinan 95% bahwa hasilnya memiliki presisi statistik plus atau minus sebanyak 3% dari apa yang akan terjadi jika seluruh populasi telah disurvei.