Ini Alasan Laba Bersih ASII Tercatat Menurun 22% Jadi Rp8,83 Triliun

PT Astra International Tbk

JAKARTA-Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII), Djony Bunarto Tjondro mengungkapkan, penurunan secara year-on-year atas laba bersih perseroan di Semester I-2021 lebih disebabkan oleh pencatatan keuntungan dari penjualan PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada Semester I-2020.

Menurut Djony dalam keterangan resmi ASII yang dikirim melalui surat elektronik, Jumat (30/7), apabila pada laporan keuangan ASII tidak memperhitungkan keuntungan penjualan BNLI, maka laba bersih perseroan meningkat sebesar 61 persen, terutama ditopang kinerja divisi otomotif yang semakin membaik.

“Sebagian besar bisnis Grup mengalami perbaikan pada Semester I-2021, dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020, ketika Grup menghadapi pembatasan-pembatasan bisnis yang signifikan terkait dengan penanggulangan pandemi Covid-19 pada Kuartal II-2020,” papar Djony.

Meski kondisi bisnis telah membaik, lanjut Djony, kinerja ASII masih akan tertantang hingga akhir tahun ini, karena kinerja bisnis dan kepercayaan konsumen masih akan terdampak oleh situasi pandemi Covid-19 di Indonesia yang sangat memperihatinkan pada akhir-akhir ini.

Baca :  PEHA Siap Tebar Dividen 40% Dari Laba Bersih 2020

Sebagaimana diketahui, pada Semester I-2021, laba bersih ASII tercatat Rp8,83 triliun atau lebih rendah dibanding periode yang sama di 2020 yang mencapai Rp11,38 triliun.

Adapun total pendapatan bersih perseroan selama enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp107,4 triliun atau meningkat dibanding periode yang sama di 2020 sebesar Rp89,8 triliun.

Lebih lanjut Djony merincikan, pada divisi otomotif jumlah laba bersih di Semester I-2021 meningkat 362 persen (y-o-y) menjadi Rp3,3 triliun, terutama karena dampak negatif pandemi terhadap kinerja divisi ini pada kuartal kedua tahun lalu dan langkah-langkah penanggulangannya.

Selain itu, kata dia, adanya peningkatan volume penjualan pada Semester I-2021, khususnya pada segmen roda empat yang diuntungkan oleh insentif sementara pajak penjualan barang mewah.

Baca :  Uang Beredar Mei 2020 Tercatat Rp 6.468,2 Triliun

Pada divisi jasa keuangan, laba bersih selama enam bulan pertama tahun ini meningkat 2 persen (y-o-y) menjadi Rp2,1 triliun yang disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dan asuransi umum.

Sementara itu, pada divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, jumlah laba bersih meningkat 13 persen menjadi Rp2,7 triliun, terutama disebabkan oleh peningkatan penjualan alat berat Komatsu dan kenaikan harga batubara.

PT United Tractors Tbk (UNTR) yang 59,5 persen sahamnya dimiliki oleh ASII, melaporkan bahwa ada peningkatan laba bersih sebesar 11 persen menjadi Rp4,5 triliun.

Sedangkan, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) yang 64,8 persen sahamnya dimiliki oleh UNTR melaporkan rugi bersih sebesar Rp153 miliar, karena perlambatan penyelesaian beberapa proyek dan berkurangnya proyek pekerjaan konstruksi selama masa pandemi.

Baca :  Kerugian KIAS di Kuartal Pertama Turun Jadi Rp6,75 Miliar

Pada divisi agribisnis, jumlah laba bersih di Semester I-2021 meningkat 66 persen menjadi Rp517 miliar, terutama disebabkan harga minyak kelapa sawit yang lebih tinggi.

Divisi infrastruktur dan logistik mencatat laba bersih Rp91 miliar, dibandingkan dengan rugi bersih Rp88 miliar pada Semester I-2020.

Divisi teknologi informasi mencatatkan laba bersih di Semester I-2021 senilai Rp14 miliar atau menurun 13 persen (y-o-y), karena adanya penurunan pendapatan dari bisnis layanan perkantoran PT Astra Graphia Tbk (ASGR) yang 76,9 persen sahamnya dimiliki oleh ASII.

Divisi properti membukukan laba bersih di Semester I-2021 sebesar Rp83 miliar atau meningkat 17 persen, terutama karena tingkat hunian yang lebih tinggi dan biaya operasional yang lebih rendah di Menara Astra.