Kisah Pilu Para Pengantar Pasien COVID-19

Ambulans bersiap memasuki Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (14/6/2021). Berdasarkan data pengelola RSDC Wisma Atlet, tingkat keterisian atau bed occupancy rate (BOR) pasien positif COVID-19 mencapai 80,68 persen yang dirawat pada tower 4, 5, 6, dan 7. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

Raut sedih tampak di wajah Supono begitu ia bercerita tentang pasien COVID-19 yang diantarkannya berkali-kali ditolak rumah sakit.

Sudah lima tahun, pria asal Sidoarjo, Jawa Timur, bergabung menjadi relawan di Info Lintas Sidoarjo. Di komunitas ini, Supono menjadi sopir ambulans.

Supono yang sehari-hari menjadi pengemudi ojek online ini bercerita pengalaman sedih yang baru saja menimpanya.

Sabtu (10/7/2021), ia menerima panggilan dari warga untuk mengantarkan seorang pasien yang diduga COVID-19.

Pasien laki-laki berusia 30an tahun itu, menurut dia, punya riwayat sakit batuk dan menggigil. Saturasi oksigennya cuma 60 sampai 70.

Hari itu juga ia langsung mengambil ambulans dan mengantarkan si pasien ke rumah sakit.

Sampai rumah sakit, pasien ditolak karena kamar sudah penuh. Ia lantas mencari lagi rumah sakit lain.

Ternyata masih ada kamar. Ia pun segera membawa pasien menuju rumah sakit itu. Nahas tak bisa ditolak. Setiba di rumah sakit, pasien sudah meregang nyawa.

“Ternyata pasien meninggal di ambulans,” kata dia menghela nafas.

Baca :  Seribuan Orang Lebih Meninggal Akibat Covid-19 di Tangsel

Memang, saat mengantarkan pasien itu, pihak keluarga tidak memastikan apakah rumah sakit masih ada kamar atau tidak.

Karena itu, saat ini, ketika pasien COVID-19 membludak, kamar rumah sakit penuh, sebelum membawa pasien, ia meminta keluarga memastikan dulu ketersediaan kamar di rumah sakit.

Ia tak mau lagi peristiwa itu terulang kembali. “Saya merasa bersalah,” ujar dia.

Hal serupa juga dialami Sutoko (47). Berkali-kali ia mengucapkan kata gelo (menyesal) saat menceritakan pengalaman mengantarkan pasien COVID-19.

Kadang ia pun tak sampai menuntaskan kalimatnya saat berbicara tentang pasien positif COVID-19 yang diantarkan ditolak rumah sakit karena kamar sudah penuh.

Ketika itu terjadi, Sutoko pun harus mengantarkan pasien mencari rumah sakit yang masih mau menerima pasien.

Yang paling menyedihkan di tengah upayanya mencarikan kamar bagi pasien, pasien meregang nyawa di tengah perjalanan.

“Saya merasa gagal membantu atau menyematkan orang itu,” kata dia.

Sutoko sama seperti Supono. Ia adalah relawan di komunitas Info Lantas Sidoarjo. Sudah enam tahun ia bergabung dalam komunitas ini sebagai sopir ambulans.

Baca :  Pemerintah Upayakan Tambahan 36 Ribu Tempat Tidur Untuk Pasien COVID-19

Bergabung di komunitas ini adalah panggilan jiwanya. Sehari-hari, ia adalah seorang petugas satuan pengamanan di sebuah puskesmas di Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur.

“Saya membantu dengan modal tenaga. Pokok bondone semangat tok ae (modalnya semangat saja),” ujar bapak empat anak ini terbahak.

Supono dan Sutoko tak sendiri. Di Bandung ada Hardi. Ia adalah seorang sopir ambulans di Kota Bandung. Ia masih ingat peristiwa yang menimpanya pekan lalu.

Saat itu, ia diminta untuk mengantarkan seorang pasien COVID-19 di sekitar perumahan Kota Baru Parahyangan. Kondisi pasien sudah kritis.

Nahas, belum sampai rumah sakit, pasien sudah menghembuskan nafas di perjalanan. Hardi pun sedih karena merasa tak bisa menyelamatkan nyawa pasien itu. Ia bisa merasa bahagia dan manakala pasien yang diantarkan mendapat kamar dan selamat.

“Kalau warga yang sakit itu bisa sampai ke rumah sakit, saya merasa bangga bisa membantu apalagi bila kondisinya kritis,” ujar dia.

Baca :  Pemkot Bekasi Tak Lagi Gunakan Hotel Sebagai Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid-19

Saat kasus COVID-19 melonjak, Hardi mengaku dalam sehari bisa 4-5 kali membawa pasien ke rumah sakit. Meski terbilang cukup padat, tapi ia merasa senang karena bisa membantu sesama.

“Ini tugas kemanusiaan,” ujar Kabag Hukum DPW Persaudaraan Pengemudi Ambulance Indonesia (PPA) Jawa Barat ini

Ketersian Rumah Sakit
Di Sidoarjo, keterisian rumah sakit rujukan COVID-19 mencapai 99 persen. Karena penuh, banyak rumah sakit yang menutup layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Menurut Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur, Dodo Anondo, saat ini ada 13 IGD yang tutup sementara.

Sementara di Jawa Barat, berdasar data Pikobar (Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat), di wilayah itu ada 385 rumah sakit.

Dari jumlah itu 336 rumah sakit melayani pasien COVID-19, sedang 39 rumah sakit tidak melayani.

Ketersediaan kamar dari rumah sakit yang melayani pasien COVID-19 ada 19.568 tempat tidur. Dari jumlah itu 10.931 sudah terisi.

Sumber: infopublik.id