Pandemi dan Debt Collector

Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng,

Oleh: Salamuddin Daeng

Pandemi sebetulanya hal biasa bagi dunia, sejarahnya bisa lolos dan bisa diatasi. Karena dunia secara keroyokan membiayai usaha mengatasi pandemi.

Lembaga keuangan dunia dan negara negara kaya urunan uang mengatasi pandemi.

Pandemi itu identik dengan donor. Kalau datang pandemi maka berbondong bondong lah donor datang membantu negara yang tengah dilanda pandemi.

Donor itu berasal dari lembaga multilateral dan dari negara maju atau bilateral.

Namun berbeda dengan sekarang. Pandemi datang bukan donor yang datang mengikutinya.

Akan tetapi sebaliknya yang datang adalah debt collector alias tukang tagih utang.

Inilah mengapa pandemi kali ini benar benar membuat ngilu semua pemerintahan termasuk Indonesia.

Baca :  Pertamina Kena Masalah Timbunan Utang, PLN Ikut Dijual Ketengan

Itulah mengapa para ahli ekonomi bingung. Pilih mana mengatasi pandemi lebih dulu atau mengatasi ekonomi lebih dulu. Keduanya tidak bisa dipilih dan keduanya adalah masalah yang berbeda.

Mengapa berbeda ? Karena pandemi ini barang impor dan segala ikutannya adalah impor, bukan produk sendiri.

Di tengah pandemi malah negara negara yang paling sengsara akibat dilanda pandemi seperti Indonesia, India, Brazil dll, malah berlomba lomba menaikkan peringkat utang mereka agar tetap bisa mendanai pandemi.

Otomatis imbal hasil, bunga harus naik.

Akibatnya pandemi makin mencekik keuangan negara negara sengsara tersebut.

Debt collector tak mengenal kompromi. Kalau tidak bisa bayar utang maka peringkat utangnya makin ditekan.

Baca :  Doni Monardo Ajak Semua Pihak Dukung Kebijakan Peniadaan Mudik

Konsekuensinya negara tak menerima aliran uang untuk membiayai pandemi lebih lanjut.

Jadi ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami negara super sengsara sekarang ini.

Dua tahun ini pemerintah Indonesia memang sedikit diuntungkan, karena walaupun dihajar debt collector namun pemerintah masih bisa memakai dana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dana Haji, dana Jamsostek, dana Taspen, Dana BPJS, dan dana perbankkan dan perusahaan asuransi untuk menolong APBN .

Namun tahun tahun ke depan seiring dengan eskalasi pandemi yang terus meningkat, obat covid belum diumumkan secara terus terang kepada publik.

Maka tekanan kepada APBN akan membuat pemerintah sesak nafas. Debt collector akan datang dari dalam dan dari luar negeri.

Baca :  Jokowi: Jangan Pesimis, Semuanya Mesti Optimis

Mereka akan berbaris di halaman depan Istana. Ini akan membuat pemerintahan depresi dan stres , Imun akan turun dan siap siap dibawa ke ICU.

Oleh karenanya menjadi fokus pemerintah adalah mengerahkan kekuatan penuh untuk mencari obat covid dan mengakhiri pandemi.

Para peneliti dan dokter dikerahkan benar benar untuk menemukan obat, obat dan obat.

Karena vaksin akan terus menyedot uang negara sampai kering kerontang.

Penulis adalah Pengamat Ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Jakarta