Rating ASSA Maupun Rencana Emisi Obligasinya Ditahan Pada Level Single A Minus

Pefindo Tetapkan Rating Subdebt BJBR Senilai Rp1 Triliun di Level Single A
ilustrasi

JAKARTA-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memutuskan untuk menahan peringkat PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) di level idA- (Single A Minus).

Demikian pula dengan rencana penerbitan Convertible Bond I-2021 ditahan pada level yang sama.

Menurut analis Pefindo, Aishantya dalam siaran pers yang dikirim melalui surat elektronik, Jumat (30/7), Pefindo menetapkan peringkat idA- untuk PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) dan rencana emisi Obligasi Konversi I-2021
sebesar maksimum Rp720 miliar.

Berdasarkan laporan Pefindo, sebesar 97 persen dari hasil penerbitan convertible bond tersebut akan digunakan untuk melunasi utang ASSA yang ada di bank, sedangkan sisanya akan dialokasikan untuk keperluan modal kerja dan ekspansi bisnis pada anak usaha.

Baca :  Pefindo Tetapkan Rating Subdebt BJBR Senilai Rp1 Triliun di Level Single A

Lebih lanjut Aishantya menyebutkan bahwa prospek ASSA sebagai perusahaan berada pada level ‘Stabil’, begitu pula dengan outlook dari rencana emisi Obligasi Konversi I-2021 yang berada pada level ‘Stabil’.

Dia menjelaskan, obligor dengan peringkat idA memiliki kemampuan yang kuat dibandingkan dengan obligor lain di Indonesia, terkait pemenuhan komitmen keuangan jangka panjang.

Namun, kemampuan obligor akan mudah terpengaruh oleh perubahan buruk kondisi ekonomi, dibandingkan dengan obligor dengan peringkat lebih tinggi.

Sementara itu, tanda minus (-) yang mengikuti peringkat ASSA tersebut menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan berada di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan.

“Peringkat mencerminkan posisi ASSA yang kuat di industri penyewaan kendaraan, aliran pendapatan yang stabil dengan segmen bisnis yang beragam dan profil armada yang baik,” ucap Aishantya.

Baca :  Pefindo Beri Rating di Level Tertinggi untuk TLKM Beserta Surat Utangnya

Tetapi, kata dia, peringkat idA- itu dibatasi oleh tingkat leverage keuangan yang tinggi, kompetisi yang ketat di industri pengiriman barang dan sensitivitas terhadap perubahan kondisi makroekonomi yang bisa menekan pertumbuhan bisnis.

Dia mengungkapkan, peringkat ASSA dapat diturunkan, jika perusahaan gagal mencapai pendapatan dan/atau EBITDA yang ditargetkan.

“Peringkat juga dapat diturunkan, jika perusahaan menarik utang yang jauh lebih tinggi dari yang diproyeksikan tanpa dikompensasi dengan peningkatan kinerja bisnis,” paparnya.

Akan tetapi, peringkat dapat dinaikkan, jika ASSA secara substansial mampu melampaui target pendapatan dan EBITDA secara berkelanjutan, terutama pada bisnis kurir dan penyewaan kendaraan.

“Hal ini harus disertai dengan perbaikan tingkat leverage keuangan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Baca :  Selain Bagi Dividen Rp25/Saham, RUPS HEAL Setujui Rencana Stock Split