Siap Roadshow Virtual, Bos Bukalapak Berharap Asing Serap Saham BUKA

perseroan akan memulai roadshow pada hari ini dalam upaya mencari dan bertemu dengan calon investor dari luar negeri yang dilakukan secara virtual
Bukalapak

JAKARTA-Pada fase penawaran awal (bookbuilding) yang dimulai hari ini hingga 19 Juli 2021, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) akan melakukan virtual roadshow untuk menjaring investor asing terkait rencana penawaran umum perdana saham (IPO).

Menurut Presiden Direktur Bukalapak, Rachmat Kaimuddin saat pelaksanaan konferensi pers IPO BUKA di Jakarta, Jumat (9/7), perseroan akan memulai roadshow pada hari ini dalam upaya mencari dan bertemu dengan calon investor dari luar negeri yang dilakukan secara virtual.

Dia mengaku, sejauh ini perseroan belum dapat mempublikasikan calon investor luar negeri yang akan menyerap saham IPO BUKA.

“Karena, bookbuilding period baru dimulai. Kami optimistis akan dapat demand dari luar negeri juga,” ucap Rachmat.

Baca :  Harga Cenderung Flat, Wadirut Lepas Kepemilikan Saham di BRIS

Sebagaimana diketahui, masa penawaran awal (bookbuilding period) saham IPO BUKA dilakukan pada 9-19 Juli 2021.

Perseroan berharap bisa mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Juli 2021.

Sehingga, masa penawaran umum perdana saham bisa dilaksanakan pada 28-30 Juli 2021.

Adapun tanggal penjatahan akan dilakukan pada 3 Agustus 2021 dan tanggal pendistribusian saham secara elektronik pada 5 Agustus 2021.

Maka, manajemen Bukalapak berharap saham perseroan dengan kode BUKA bisa dicatatkan di BEI pada 6 Agustus 2021.

Sebelumnya saat pelaksanaan Public Expose IPO BUKA, Rachmat menyebutkan bahwa Bukalapak, berencana melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan melepas saham sebanyak-banyaknya 25.765.504.851 lembar dengan harga penawaran berkisar Rp750-Rp850 per saham.

Baca :  Soal Kepatuhan Lembaga Efek, OJK Periksa Satu SRO Pasar Modal

Jumlah saham Bukalapak yang akan dilepas kepada publik tersebut setara dengan sebanyak-banyaknya 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO.

Dengan harga penawaran sekitar Rp750-Rp850 per saham, maka Bukalapak akan memperoleh dana IPO berkisar Rp19,32 triliun-Rp21,9 triliun.

Sesuai dengan rencana perseroan, lanjut Rachmat, sebesar 66 persen dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja Bukalapak, sedangkan sisanya untuk modal kerja sejumlah anak usaha perseroan.

Pada aksi korporasi ini, manajemen Bukalapak menunjuk PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Sedangkan selaku penjamin emisi efek adalah PT UBS Sekuritas Indonesia dan PT Mirae Asset Sekuritas.

Ke depannya, kata Rachmat, perseroan meyakini bisa meraih pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, sehingga diharapkan bisa memperbaiki profitabilitas Bukalapak.

Baca :  PUPR Tuntaskan Akses Menuju Sukajaya, Bogor

“Kami akan memperbaiki profitabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan yang berkualitas,” imbuhnya.

Sementara itu, Pada Prospektus Ringkas Bukalapak menyebutkan bahwa risiko yang dihadapi perseroan adalah, Bukalapak memiliki riwayat kerugian bersih dan perseroan mungkin tidak mencapai profitabilitas di masa depan.

Sedangkan, risiko terkait investasi pada saham BUKA, yaitu tidak likuid ya saham yang ditawarkan dalam IPO.

Selain itu, prospektus Bukalapak juga menyampaikan bahwa perseroan tidak menerbitkan surat kolektif saham dalam IPO ini, tetapi saham-saham tersebut akan didistribusikan secara elektronik yang akan diadministrasikan dalam penitipan kolektif di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia.