India Bebaskan BMAD Produk Serat Stapelviscose dari Indonesia

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi

JAKARTA-Pemerintah India, melalui Directorate General of Trade Remedies (DGTR), akhirnya membebaskan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk serat stapelviscose (viscose staple fiber/VSF) dari Indonesia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, mengatakan keputusan DGTR dirilis setelah mereka tidak menemukan dasar pengenaan BMAD produk VSF dari Indonesia dalam peninjauan kembali (sunset review).

“Setelah 11 tahun, akhirnya Indonesia berhasil melepaskan diri dari pengenaan BMAD produk VSF oleh otoritas India. Sebab, setelah dilakukan sunset review, tidak ditemukan dasar yang cukup kuat bagi DGTR untuk melanjutkan pengenaan BMAD kepada produk VSF Indonesia,” jelas Mendag dalam keterangan  Jumat (6/8/2021).

Menurut Mendag produk VSF Indonesia dikenakan BMAD India sejak 26 Juli 2010 dengan besaran antara US$ 0,103 (sekitar Rp1.479) per kilogram (kg)— US$ 0,512 (sekitar Rp7.354) per kg.

Baca :  India Batalkan BMAD Produk Benang Sintetis

VSF merupakan serat buatan yang dapat terurai alami (biodegradable) dari serat kayu yang memiliki karakteristik mirip dengan kapas, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan benang untuk pakaian, apparels, dan perlengkapan rumah tangga.

Mendag menyambut baik penghapusan BMAD produk VSF Indonesia yang dituangkan dalam keputusan DGTR Nomor 7/03/2021 pada 31 Juli 2021 tersebut.

Hal ini karena India merupakan salah satu pasar produk VSF yang cukup menjanjikan, dan merupakan pasar impor terbesar ketujuh dunia pada 2020 dengan nilai impor sebesar US$86,27 juta (sekitar Rp1,2 triliun) atau 4,1 persen dari total perdagangan VSF dunia.

“Dari sisi negara tujuan ekspor Indonesia, India berada di posisi keempat dengan membukukan nilai ekspor sebesar US$25,35 juta (sekitar Rp364,1 miliar) atau 6,1 persen dari total ekspor VSF Indonesia ke seluruh dunia,” ujar Mendag.

Baca :  Berikut Negara Penyumbang Surplus Ekspor Nonmigas Rp37,5 Triliun

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Plt Dirjen PLN Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana menambahkan dalam kurun waktu 11 bulan terakhir, Indonesia telah berhasil tiga kali berturut-turut terbebas dari pengenaan BMAD oleh DGTR India, yaitu untuk produk non woven fabric, viscose spun yarn (VSY), dan viscose staple fiber (VSF).

“Capaian untuk produk VSF kali ini menjadi catatan tersendiri. Hal ini mengingat VSF merupakan bahan baku dari VSY. Sehingga, eksportir Indonesia dapat secara simultan menggenjot ekspor untuk kedua jenis produk ini,” imbuh Wisnu.