INTP Proyeksikan Konsumsi Semen Domestik Tumbuh 5% di 2021

Indocement tetap optimistis terhadap konsumsi semen domestik pada 2021, dengan perkiraan pertumbuhan 5 persen
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

JAKARTA-PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memperkirakan bahwa pertumbuhan konsumsi semen domestik di sepanjang 2021 bisa mencapai 5 persen (year-on-year), kendati faktor ketidakpastian ekonomi akibat kondisi pandemi Covid-19 masih berlanjut.

“Indocement tetap optimistis terhadap konsumsi semen domestik pada 2021, dengan perkiraan pertumbuhan 5 persen. Tahun-tahun sebelumnya, konsumsi semen di semester kedua telah bertumbuh lebih dari 30 persen dibandingkan semester pertama,” demikian disebutkan dalam siaran pers INTP, Jakarta, Rabu (4/8).

Manajemen INTP menilai, pada Semester I-2021 sudah ada sinyal positif terhadap pemulihan ekonomi, namun sejak Juli kembali terjadi gelombang pandemi kedua yang diikuti dengan kebijakan pemerintah yang membatasi mobilitas masyarakat.

“Covid-19 merupakan faktor ketidakpastian yang berkelanjutan pada pemulihan ekonomi,” jelasnya.

Baca :  RUPS INTP Setuju Seluruh Laba Bersih 2019 Ditetapkan Sebagai Dividen

Lebih lanjut INTP menyampaikan, tren pertumbuhan konsumsi semen di setiap semester kedua akan kembali berlanjut, karena ada penyelesaian anggaran belanja pada akhir tahun untuk proyek-proyek yang sedang berjalan, terutama proyek infrastruktur.

Menurut keterangan manajemen INTP, pertumbuhan konsumsi semen juga akan ditopang oleh sektor perumahan yang mendapat keuntungan dari insentif PPN untuk rumah baru, suku bunga yang lebih rendah, termasuk relaksasi pada rasio LTV/ FTV.

“Tentunya, harapan terhadap pemulihan konsumsi semen tersebut pada akhirnya akan banyak bergantung pada tingkat penyebaran Covid-19 yang dapat dikendalikan secara baik,” sebut manajemen INTP.

Sementara itu, faktor lain yang membuat ketidakpastian ada pada tingginya kenaikan biaya energi, baik harga pembelian batubara maupun harga bahan bakar lain.

Baca :  Semester I-2020, Laba Bersih INTP Turun 26,6% Jadi Rp470 Miliar

“Hal ini membuat perseroan membutuhkan untuk terus melakukan efisiensi, baik dalam biaya produksi maupun dengan berbagai inovasi untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif,” tutupnya.