Stabilitas Inflasi Belum Mampu Katrol IHSG, Cermati Saham Pilihan Analis

saat ini candle shooting star terdeteksi pada chart harian IHSG dan kemungkinan menjadi indikasi bahwa laju indeks mendekati fase akhir dari rally wave [iii]
Ilustrasi

JAKARTA-Data inflasi Juli 2021 yang diperkirakan masih berada dalam kondisi stabil dan terkendali masih belum mampu mendorong laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk bergerak menguat.

Perkiraan itu disampaikan oleh analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Suryawijaya dalam riset perdagangan Senin (2/8).

“Memasuki bulan kedelapan di 2021, terdapat rilis data perekonomian terkait inflasi yang diperkirakan masih dalam kondisi terkendali,” ucap William.

Dia mengatakan, sejauh ini pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh sentimen perlambatan ekonomi yang telah membuat kinerja emiten belum bisa membaik secara cepat.

Pada perdagangan di akhir pekan lalu, IHSG ditutup melemah sebesar 0,83 persen ke level 6.070.

Lebih lanjut William menyatakan, saat ini laju IHSG lebih berpotensi mengalami pelemahan, ketimbang untuk bergerak menanjak.

Baca :  Said Abdullah: Perlunya Kebijakan Antisipasi Sektor Pasar Keuangan

Adapun rentang support-resistance berada di level 6.001-6.202.

“Pada hari ini IHSG berpotensi melemah,” tegas William.

Dengan demikian, jelas dia, tren pelemahan lanjutan pada laju IHSG di perdagangan hari ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para investor dengan mengakumulasi pembelian saham TLKM, BBNI, EXCL, JSMR, BBCA, ASII dan TBIG.

Sementara itu, menurut analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, pergerakan IHSG yang berada dalam tren melemah diperkirakan masih tertahan di fase konsolidasi, dengan kisaran support-resistance di level 6.008-6.096.

Secara teknikal, menurut Lanjar, pergerakan IHSG mengalami pulled back upper bollinger bands dan membentuk double top jangka pendek dengan level resistance di posisi 6.160.

Baca :  Firmanzah: Waspadai Ekonomi Setahun ke Depan

“Momentum bearish tersinyal pada indikator RSI dan Stochastic, sehingga menjadi salah satu tekanan bagi investor yang akhirnya melakukan aksi jual di akhir bulan lalu,” papar Lanjar.

Dia menyebutkan, sejauh ini indikator MACD berada pada area overvalue, dengan divergence negatif yang ada pada histogram.

“Sehingga secara teknikal, IHSG berpotensi untuk bergerak terkonsolidasi pada perdagangan selanjutnya”.

Maka pada skenario bearish lanjutan, ujar Lanjar, IHSG akan menguji support Moving Average 20 hari (MA20) yang berada di level 6.057 hingga support psikologis di level 6.000.

Sehingga, para investor direkomendasikan untuk mengoleksi saham ASII, ADRO, BSDE, ICBP, MAIN, TINS dan SMRA.