BEI Suspensi BCIC, Empat Saham Lain Masuk Radar Pemantauan

Penghentian sementara perdagangan saham TIRA terbatas pada upaya untuk melakukan cooling down
ILustrasi

JAKARTA-PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melakukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC), lantaran harga saham mengalami penurunan yang signifikan hingga ke level Rp222 per lembar pada transaksi kemarin.

“Dalam rangka cooling down, BEI memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham Bank JTrust Indonesia (BCIC), pada perdagangan 21 September 2021,” kata Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Lidia M Panjaitan dalam Pengumuman Bursa yang dilansir di Jakarta, Selasa (21/9).

Dia menyebutkan, penghentian sementara perdagangan BCIC tersebut dilakukan di pasar regular dan pasar tunai, dengan tujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi para pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang setiap pengambilan keputusan berinvestasi di BCIC.

Baca :  BCIC Kembali Disanksi Suspensi, Saham BBHI Masuk Daftar UMA

Sebagaimana diketahui, pada perdagangan 10 Agustus 2021 harga BCIC sempat menyentuh level tertinggi di posisi Rp1.205, meski akhirnya ditutup pada level Rp900.

Pasca menyentuh level tertinggi tersebut, harga BCIC berbalik melemah hingga ke level Rp222 pada perdagangan kemarin.

Sementara itu, BEI juga menetapkan empat saham masuk ke dalam radar pemantauan, karena mengalami pergerakan harga yang tidak wajar.

Keempat saham tersebut adalah, PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC), PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) dan PT Cahaya Bintang Medan Tbk (CBMF).

BEI menyampaikan bahwa empat saham tersebut terindikasi mengalami pola transaksi yang di luar kebiasaan (unusual market activity/UMA).

Baca :  Kemenperin Bakal Telurkan 2000 Pelaku Industri Kreatif Tahun 2020

“Pengumuman UMA tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal,” ujar Lidia.

Lebih lanjut Lidia mengatakan, BEI berharap agar para investor memperhatikan jawaban dari APIC, ZINC, AYLS dan CBMF atas permintaan konfirmasi dari Bursa, serta perlu mencermati kinerja perusahaan-perusahaan ini dalam setiap keterbukaan informasinya.

Selain itu, para investor juga diharapkan untuk kembali mengaji rencana corporate action keempat emiten tersebut, apabila rencananya itu belum mendapatkan persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Lidia menambahkan, para investor juga perlu untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan untuk berinvestasi pada saham APIC, ZINC, AYLS dan CBMF.

Baca :  Kemenperin Bakal Telurkan 2000 Pelaku Industri Kreatif Tahun 2020