Grant Thornton: Dampak Tapering-off Tahun Ini Tak Seberat di 2013

Grant Thornton

JAKARTA-Perusahaan jasa audit, Grant Thornton Indonesia memperkirakan, dampak dari kebijakan The Fed terkait tapering-off tahun ini tidak akan seberat efek yang ditimbulkan saat penerapan taper tantrum di 2013.

“Secara keseluruhan, dampak tapering-off The Fed diprediksi tidak akan seberat 2013. Pertama, The Fed sudah sangat transparan dalam hal komunikasi, khususnya prospek ekononomi seperti tingkat inflasi dan angka pengangguran,” kata CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani di Jakarta, Jumat (24/9).

Bahkan, lanjut dia, The Fed juga sudah transparan dalam menginformasikan rencana tapering-off pada tahun ini.

“Tidak dapat dipungkiri dampak tapering-off pada 2013 berimbas cukup kuat terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah tingginya arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia dari kebijakan quantitative easing (QE), setelah krisis keuangan 2008 dan current account deficit di 2013 mencapai lebih dari 3 persen,” paparnya.

Baca :  Oktober 2014, Aliran Dana Asing Senilai Rp 45,27 Triliun

Johanna menyebutkan, dampak paling terasa dari taper tantrum 2013, yaitu merosotnya nilai tukar rupiah hingga ke puncak pelemahan pada September 2015.

Akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp9.790/USD sampai pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp14.730/USD.

Sedangkan, saat itu pun IHSG jatuh dari level 5.200 ke level 4.200 di akhir 2013.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, dampak tapering-off di 2021 yang lebih minimal dibanding 2013 juga dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi Indonesia yang lebih ketimbang di 2013, tercermin dari cadangan devisa Juli 2021 yang mencapai USD137,4 miliar.

Pada Juni 2013, besaran cadev hanya senilai USD98,1 miliar.

“Kami mendukung pemerintah, terutama Bank Indonesia (BI) sebagai regulator untuk mengantisipasi dampak tapering-off dari jauh–jauh hari, termasuk kesiapan untuk melakukan intervensi, seperti di pasar spot hingga pembelian SBN di pasar sekunder. Dengan adanya persiapan yang lebih matang, semoga dampak tapering-off terhadap depresiasi rupiah masih berada dalam tahap yang wajar,” tutur Johanna.

Baca :  Harga Saham Melorot, BEI Suspensi Saham ARKA