Privatisasi Pertamina Dalam Kubangan Utang

Utang global bond ini jika terealisasi semuanya maka nilainya mencapai 536 triliun rupiah, itu dari global bond saja. Lalu bagaimana utang Pertamina sekarang yang nilainya sudah hampir 600 triliun rupiah.
Pengamat Ekonomi AEPI Salamuddin Daeng

Oleh: Salamuddin Daeng

Apa yang sedang diusahkan pemerintahan Joko Widodo untuk Pertamina?

Utang Pertamina benar-benar ditimbun sampai pada tingkat tidak ada alasan lagi bagi perusahaan untuk menolak diprivatisasi.

Coba bayangkan cara Pertamina berhutang sekarang, tidak terbayangkan bagaimana Pertamina akan membayarnya kelak.

Global bond Pertamina sekarang 15,75 miliar dolar,  sebanyak 7,1 miliar dolar bertambah di era Dirut Nicke Widyawati.

Satu-satunya sumber uang yang bertambah bagi Pertamina dalam masa ini, yakni utang, karena produksi minyak merosot, harga minyak menurun,  penjualan BBM juga menurun. Hanya utang yang bertambah.

Pertamina dalam tinjauan Fitch Ratings telah menetapkan program surat utang jangka menengah global senilai USD20 miliar, tanpa syarat, tidak tersubordinasi dan tanpa jaminan.

Baca :  Pertamina Siap Supply Pengisian Avtur Penerbangan Haji

Anehnya dalam pengakuan lembaga rating utang bond ini akan digunakan untuk belanja modal dan belanja umum.

Namun faktanya tahun 2021 Pertamina memotong belanja modal sekitar 80 triliun  rupiah.

Tidak sejalan dengan proposalnya.

Utang global bond ini jika terealisasi semuanya maka nilainya mencapai 536 triliun rupiah, itu dari global bond saja.

Lalu bagaimana utang Pertamina sekarang yang nilainya sudah hampir 600 triliun rupiah.

Maka Pertamina akan menimbun utang lebih dari 1100 triliun rupiah.

Lalu dibawah menteri Erick Tohir Pertamina menjalankan big bang privatization,    raksasa minyak tanah air akan dijual besar besaran di pasar modal, melalui metode sub holding yakni anak anak perusahaan Pertamina dipisahkan dari induknya.

Baca :  Gandeng MES, Pertamina Kembangkan Program Pertashop

Mengapa karena Pertamina tidak boleh diprivatisasi menurut UUD. Namun anak anak perusahaan yang dipisah dari induknya boleh diprivatisasi. Anak perusahaan BUMN bukan BUMN katanya.

Bagaimana bisa Perusahaan yang sudah dijual di pasar utang dengan timbunan global bond?.

Lalu dijual ketengan lagi di pasar saham melalui IPO? ini cara jualan macam apa? Apakah privatisasi ini agar perusahaan bisa membayar utang, kalau tetap tidak bisa bagaimana?

 

Ini hasilnya sudah jelas bisa diketahui :

  1. Utang Pertamina segunung.
  2. IPO hasilnya tidak akan dapat menutup utang Pertamina, IPO akan menjadi metode jual murah.
  3. Pertamina tidak bisa bayar utang namun pada saat yang sama aset Pertamina telah habis dijual kepada swasta.
Baca :  PGN Jatuh Tertimpa Tangga, Menteri BUMN dan Menteri ESDM Ngapain Saja?

Sudah ketiban utang segunung, harta kekayaan semua hilang ditelan ambisi,  keserakahan dan kecerobohan.

 

Penulis adalah Pengamat Ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Jakarta