Tren Naik BJBR Menuju Kisaran Target Price Rp1.800-1.900 Per Saham

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk

JAKARTA-Tren kenaikan harga saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) diperkirakan bakal berlanjut menuju rentang Target Price (TP) Rp1.800-Rp1.900 per saham, lantaran ditopang oleh sentimen positif terkait fokus BJBR pada layanan berbasis digital.

Menurut analis senior dari Certified Securities Analyst (CSA) Research Institute, Reza Priyambada, jika memperhatikan grafik pergerakan harga BJBR, saat ini saham BUMD yang berada di kisaran Rp1.300-an tersebut cukup menarik untuk dikoleksi, karena di awal tahun ini sempat berada di posisi Rp1.800-an.

Berdasarkan chart pada 14 Januari 2021, harga BJBR sempat menyentuh level tertinggi di posisi Rp1.855, sedangkan harga terendah di tahun ini berada pada level Rp1.210 pada penutupan perdagangan 14 Juli 2021.

Namun selama sepekan terakhir, harga saham berada dalam tren kenaikan hingga menyentuh level Rp1.350 pada penutupan transaksi 17 September 2021.

“Kalau dilihat dari chart-nya, cukup menarik pergerakan dari BJBR yang sekarang di posisi Rp1.300-an. Kemudian, waktu awal tahun sempat di level Rp1.800-an, sehingga masih memiliki potensi kenaikan yang cukup besar,” ujar Reza dalam keterangannya yang disampaikan melalui surat elektronik, Senin (20/9).

Baca :  Bank DBS Indonesia Perkenalkan This is DBS Digibanking

Dia menilai, tren kenaikan harga BJBR ditopang oleh membaiknya kinerja keuangan perseroan di Semester I-2021.

“Sepanjang semester pertama, BJBR mempunyai pendapatan dan laba mengalami kenaikan yang ditopang oleh kemampuan pengelolaan kredit,” ucap Reza.

Pada sisi beban, lanjut Reza, BJBR juga mampu melakukan pengelolaan secara baik, sehingga berkontribusi pada peningkatan laba bersih di Semester I-2021.

“Target BJBR kalau dalam waktu dekat 1.450. Tetapi kalau dilihat dari rekomendasi, kisaran 1.800-1.900 itu bisa menjadi acuan target price mereka,” ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur IT, Treasury & International Banking BJBR, Rio Lanasier mengatakan bahwa perbaikan kinerja keuangan dan operasional perseroan didukung oleh konsentrasi BJBR pada pengembangan layanan digital perbankan.

Rio mengatakan, sejak 2019 perseroan melakukan digitalisasi perbankan dengan meluncurkan kampanye Pasar Ngadigi Online yang memungkinkan masyarakat untuk berbelanja dari rumah melalui penerapan QRIS.

Baca :  Pefindo Kembali Tetapkan Rating BJBR di Level Double A Minus

Sehingga, lanjut dia, sejumlah layanan berbasis digital yang dilakukan BJBR telah memudahkan bisnis dalam beradaptasi di masa pandemi Covid-19.

“Hal tersebut sudah diujicoba di beberapa pasar di Kota Bandung. Oleh karenanya, saat pandemi melanda, kami tinggal melakukan penyesuaian pola. Kami juga menyesuaikan fokus perusahaan untuk mendorong financial inclusion lewat digitalitasi perbankan,” papar Rio.

Dia mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 memberikan berkah dalam mempercepat transformasi digital di lini bisnis BJBR.

“Kami sudah siap sebelum kondisi ini tiba. Banyak penerapan inovasi digital yang telah dilakukan. Salah satu momen yang paling berpengaruh, pada saat peluncuran transaksi non-tunai melalui QRIS bank BJB. Sehingga, warga bisa berbelanja secara mobile dengan e-wallet. Hal ini sangat membantu performance BJBR pada 2020-2021,” katanya.

Selain menerapkan inovasi digital pada berbagai produk layanan, lanjut Rio, BJBR juga memanfaatkan digital marketing untuk memperluas jangkauan terhadap nasabah.

Baca :  Semester I-2010, BJBR Bukukan Laba Bersih Rp807,48 Miliar

Dengan adanya digitalisasi ini, kata dia, sebaran nasabah BJBR akan semakin meluas, sehingga bisa mendorong kinerja bisnis perusahaan.

Pada Semester I 2021, penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) BJBR bertumbuh 12,5 persen (year-on-year) menjadi Rp7,2 triliun.

“Itu baru dari pertumbuhan KPR, belum dari penyaluran kredit untuk usaha dan lainnya yang memberikan tambahan bagi perbaikan kinerja BJBR,” ucapnya.

Sementara itu, menurut pengamat pasar modal, Lucky Bayu Purnomo harga saham BJBR akan tetap berada dalam tren menguat hingga akhir tahun.

“Hingga penutupan tahun ini cenderung menguat, targetnya hingga Rp1.625. Jadi ada tren menguat dari harga saat ini,” tegas Lucky.

Pada dasarnya, ucap Lucky, BJBR memiliki market share yang identik, namun perseroan seharusnya bisa secara terus-menerus melakukan inovasi layanan yang bisa memberikan perbedaan karakter bisnis di tengah persaingan industri perbankan.

“Market share BJBR ini dominan pada konsumen yang sudah lama, hal ini yang membuat saham BJBR cukup menarik,” imbuhnya.