Laba Bersih AKRA Naik Jadi Rp796,99 Miliar

pertumbuhan lab bersih AKRA tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan per 30 September 2021 menjadi Rp17,25 triliun dari Rp13,86 triliun per 30 September 2020
PT AKR Corporindo Tbk

JAKARTA-PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) selama sembilan bulan pertama di 2021 membukukan laba bersih sebesar Rp796,99 miliar atau mengalami kenaikan dibanding periode yang sama di 2020 senilai Rp665,41 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasi di Jakarta, Selasa (26/10), pertumbuhan lab bersih AKRA tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan per 30 September 2021 menjadi Rp17,25 triliun dari Rp13,86 triliun per 30 September 2020.

Sejalan dengan kenaikan total pendapatan itu, AKRA mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan selama sembilan bulan pertama 2021 menjadi Rp15,67 triliun dari Rp12,39 triliun di periode yang sama 2020.

Maka, laba bruto hingga akhir Kuartal III-2021 menjadi sebesar Rp1,58 triliun.

Baca :  Katrol Jumlah Pengunjung Mall, SMRA Tawarkan Beragam Program Belanja

Sementara itu, laba usaha AKRA hingga akhir Kuartal III-2021 tercatat sebesar Rp1,08 triliun atau mengalami kenaikan dibanding Kuartal III-2020 yang senilai Rp917,29 miliar.

Adapun laba sebelum pajak penghasilan yang dicatatkan AKRA untuk periode berakhir 30 September 2021 adalah sebesar Rp1,02 triliun atau lebih tinggi dibanding periode yang sama di 2020 senilai Rp832,49 miliar.

Dengan jumlah beban pajak penghasilan (neto) per akhir Kuartal III-2021 yang sebesar Rp187,67 miliar, maka laba periode berjalan yang dibukukan AKRA menjadi Rp836,41 miliar.

Sedangkan, besaran laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk per kuartal ketiga tahun ini sebesar Rp796,99 miliar.

Per 30 September 2021, total liabilitas AKRA melonjak menjadi Rp10,34 triliun dari Rp8,13 triliun pada 31 Desember 2020.

Baca :  Kinerja LPCK di 2020 Berbalik Merugi Sebesar Rp3,65 Triliun

Sedangkan, total ekuitas hingga akhir Kuartal III-2021 tercatat meningkat menjadi Rp10,97 miliar dari posisi per akhir Desember 2020 yang sebesar Rp10,56 triliun.

Menurut Direktur AKRA, Termurti Tiban dalam surat perseroan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa lonjakan liabilitas AKRA tersebut dipengaruhi oleh peningkatan utang usaha yang berasal dari pembelian persediaan bahan bakar minyak (BBM).

“Hal ini sejalan dengan meningkatnya rata-rata harga minyak dunia, dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Termurti dalam surat AKRA kepada OJK tertanggal 26 Oktober 2021.