Menakar Arah Kebijakan Moneter Terbaru The Fed

Portfolio Manager - Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Andrian Tanuwijaya

Oleh: Andrian Tanuwijaya

Antisipasi normalisasi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat ke depan membuat arahan kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu katalis utama yang dicermati sepanjang tahun 2021. Apa arahan kebijakan moneter terbaru dari Fed di awal kuartal keempat ini?

Betul, sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia arahan kebijakan moneter Amerika Serikat memiliki pengaruh terhadap negara lain, terutama negara berkembang seperti Indonesia.

Sinyal tapering yang akan segera dimulai pada kuartal keempat ini dan majunya proyeksi kenaikan suku bunga pertama di 2022 (dari proyeksi sebelumnya di 2023) menjadi sorotan utama pada rapat FOMC di bulan September kemarin.

Beberapa penyesuaian yang dilakukan di antaranya:.

*Perkiraan inflasi yang lebih tinggi

Inflasi 2021 diperkirakan melonjak ke 4,2% disebabkan oleh disrupsi rantai pasokan global yang lebih persisten dari perkiraan. Walaupun demikian The Fed mempertahankan pandangannya bahwa lonjakan inflasi ini bersifat transitory dan tekanan inflasi diperkirakan turun menjadi 2,2% di tahun depan.

*Perubahan proyeksi PDB

Dampak peningkatan kasus COVID varian delta menurunkan proyeksi PDB di tahun ini menjadi 5,9%, sementara PDB di tahun 2022 diperkirakan meningkat menjadi 3,8% seiring dengan membaiknya kondisi pandemi. Secara keseluruhan aktivitas ekonomi Amerika Serikat ke depan diperkirakan masih akan kuat.

Isu pengetatan regulasi China terhadap beberapa sektor bisnis menjadi faktor yang cukup dominan mempengaruhi sentimen di pasar saham Asia. Apa yang harus dicermati oleh investor?

Pengetatan regulasi terhadap beberapa sektor bisnis memang menyebabkan tekanan pada pasar saham China di tahun ini.

Lewat filosofi common prosperity yang dinyatakan oleh pemerintah China, pengetatan regulasi tersebut dilakukan untuk mendukung transformasi ekonomi – yang tadinya berbasis manufaktur – menjadi ekonomi berbasis konsumsi domestik dengan penekanan pada pengurangan kesenjangan sosial, peningkatan daya beli dan kesejahteraan masyarakat agar dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih sehat dan berkesinambungan.

Baca :  Bangun Jembatan di Gunungpati, MAMI Salurkan Dana Purifikasi Rp 364 Juta

Sebagai investor yang bijak sejatinya kita dapat menimbang antara dampak jangka pendek – meningkatnya volatilitas di pasar finansial – dan peluang jangka panjang yang ditawarkan oleh perekonomian dan pasar finansial China yaitu kualitas pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Itulah sebabnya kami masih mempertahankan outlook positif pada pasar finansial China.

Dalam hal pengelolaan portofolio, guna meminimalisir risiko regulasi di tengah potensi volatilitas yang masih dapat ditimbulkan oleh reformasi kebijakan, maka pendekatan investasi akan condong pada sektor prioritas strategis; seperti inovasi dan teknologi, energi terbarukan, infrastruktur dan konsumsi domestik.

Beralih ke domestik, pelonggaran aktivitas masyarakat menjadi angin segar bagi pasar saham Indonesia, bagaimana peluangnya sampai dengan akhir tahun?

Optimisme pemulihan aktivitas ekonomi menjadi tema utama bagi pasar saham Indonesia pada kuartal empat di tahun ini. Melihat fundamental yang semakin baik – rupiah relatif kuat, imbal hasil obligasi Indonesia stabil dan rilis data ekonomi menunjukkan pemulihan – diharapkan faktor sentimen dapat mengejar ketertinggalannya dan pasar saham Indonesia bisa menguat sesuai potensinya.

Antusiasme dan optimisme pelaku pasar akan pemulihan aktivitas domestik sudah terlihat dari meningkatnya inflow baik dari investor lokal maupun asing.

Rata-rata nilai perdagangan harian selama minggu pertama di bulan Oktober mencapai level tertinggi sejak Januari 2021 sebesar Rp15,5 triliun.

Beberapa katalis positif seperti meningkatnya vaksinasi, membaiknya kepercayaan konsumen, kenaikan harga komoditas dan perbaikan earnings perusahaan diharapkan dapat mendorong penguatan pasar saham Indonesia sampai dengan akhir tahun.

Baca :  Jangan Salah Pilih Tempat Berinvestasi

Krisis energi yang dialami oleh beberapa negara di dunia –yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan – menyebabkan banyak negara ramai-ramai mengamankan komoditas penghasil energi seperti batu bara sehingga menyebabkan harganya naik signifikan. Bagaimana dampaknya terhadap perusahaan batu bara di Indonesia?

Dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan batubara di Indonesia akan mulai terasa dalam beberapa kuartal ke depan seiring dengan semakin besarnya proporsi penjualan yang didasarkan pada harga batubara saat ini.

Kondisi operasional dan neraca perusahaan juga jauh lebih solid karena sebagian besar perusahaan batubara sudah melakukan program efisiensi dan manajemen keuangan yang konservatif selama periode downturn beberapa tahun terakhir.

Selain itu, perlu dicatat pula bahwa kenaikan harga komoditas dunia bukan hanya berdampak positif pada perusahaan produsen barang komoditas tersebut, tetapi juga memberikan trickle-down effect terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan melalui meningkatnya nilai ekspor dan kesejahteraan masyarakat yang bekerja atau berhubungan dengan sektor yang bersangkutan.

Hal ini diharapkan mampu mengembalikan keyakinan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Antusiasme pembukaan kembali perekonomian Indonesia mendorong kenaikan pada saham sektor conventional economy (ekonomi lama), mengalahkan saham sektor e-economy (ekonomi baru) yang sempat menjadi primadona investor. Apa komentar Anda akan hal ini?

Perlu diingat bahwa sejak awal tahun, terdapat polarisasi yang cukup signifikan antara kinerja saham yang dikategorikan sebagai conventional economy dengan e-economy.

Hal ini bisa dengan mudah terlihat dari Indeks LQ45 yang di suatu masa sempat underperformed dibandingkan IHSG sebesar 13%.

Baca :  Batal Berlibur, Manfaatkan Dana Liburan Akhir Tahun

Oleh karena perbedaan kinerja yang signifikan tersebut, kami melihat fenomena rotasi sektoral yang terjadi belakangan merupakan hal yang wajar apalagi memang didukung oleh beberapa berita positif seperti angka COVID yang terus menurun secara konsisten.

Dalam pengelolaan portofolio kami selalu menjaga keseimbangan eksposur portofolio antara sektor conventional economy yang diuntungkan dengan pemulihan makro ekonomi Indonesia, dengan sektor ekonomi digital yang kami percaya memiliki prospek struktural jangka panjang yang positif.

Selain katalis yang tadi disebutkan apa saja faktor risiko yang harus dicermati ke depannya?

Ketersediaan vaksinasi yang luas, efektivitas penanganan pandemi, serta komunikasi pemerintah dan bank sentral akan perubahan kebijakan moneter dan fiskal – besaran dan kecepatannya – adalah beberapa faktor risiko utama yang perlu dicermati ke depannya. Kualitas dari rilis data ekonomi dalam beberapa bulan mendatang akan mempengaruhi bagaimana pengetatan kebijakan moneter global akan dilakukan.

Apa strategi investasi yang diterapkan guna menghasilkan alpha pada kinerja portofolio saham?

Proses investasi kami tetap fokus untuk mengidentifikasi peluang investasi melalui proyeksi makro ekonomi dan analisa fundamental di masing-masing emiten.

Kami mengedepankan peluang investasi dari tiga tema utama: conventional economy diuntungkan dari pemulihan aktivitas domestik, e-economy didukung prospek pertumbuhan tinggi ekonomi digital dan meningkatnya permintaan energi terbarukan yang mendukung green economy.

Di samping itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali.

Penulis adalah Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) di Jakarta