OJK: Pemahaman Publik Terhadap Produk Keuangan Masih Rendah

kondisi stabilitas sistem keuangan berdasarkan data September 2021 masih terjaga, dengan kinerja yang terus bertumbuh positif tercermin dari pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana di pasar modal
Ilustrasi

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan masih terbilang rendah, tercermin dari tingkat literasi keuangan yang hanya sebesar 38 persen.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Tirta Segara mengaku, tingkat inklusi keuangan nasional di 2019 sudah mencapai 76 persen atau berada di atas target yang sebesar 75 persen.

“Tingginya tingkat inklusi ini juga tidak diikuti dengan tingkat pemahaman masyarakat akan produk keuangan atau memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah, yaitu 38 persen,” kata Tirta saat membuka Finexpo Bulan Inklusi Keuangan 2021 di Jakarta, Senin (18/10).

Bahkan, lanjut dia, sejauh ini OJK menyadari bahwa tingkat inklusi keuangan tersebut masih belum merata.

Baca :  Presiden: Gelombang Digitalisasi Picu Peningkatan Tindak Pidana Keuangan

Akses keuangan di wilayah perkotaan mencapai 84 persen atau masih jauh lebih tinggi daripada di wilayah perdesaan yang hanya 69 persen.

Tirta menyampaikan, dalam upaya mengakselerasi perekonomian di masa sulit saat pandemi Covid-19, OJK memandang perlu untuk memperluas akses keuangan masyarakat.

“Segala upaya untuk mengakselerasi inklusi keuangan yang merata dan menjangkau masyarakat terdepan, terluar dan tertinggal, serta dibarengi dengan upaya peningkatan literasi keuangan menjadi sangat penting dan strategis,” ujarnya.

Menurut Tirta, upaya tersebut sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden No. 114 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang menetapkan pencapaian target inklusi keuangan nasional di 2024 sebesar 90 persen.

Baca :  Cadangan Devisa Akhir Oktober 2016 Sebesar US$115,0 Miliar

Belum lama ini, Jokowi menyampaikan bahwa gelombang digitalisasi dalam beberapa tahun terakhir harus segera disikapi secara cepat dan tepat.

Bahkan, kata Presiden, inovasi-inovasi finansial teknologi (fintech) semakin berkembang, sehingga fenomena sharing ekonomi semakin marak dari ekonomi berbasis peer-to-peer hingga business-to-business.

“Tetapi, pada saat yang sama saya juga memperoleh informasi banyak penipuan dan tindak pidana keuangan telah terjadi. Saya mendengar masyarakat bawah yang tertipu dan terjerat bunga tinggi oleh pinjaman online yang ditekan dengan berbagai cara untuk mengembalikan pinjamannya,” tutur Jokowi dalam acara OJK Virtual Innovation Day 2021 di Jakarta, Senin, 11 Oktober 2021.

Lebih lanjut Tirta mengatakan, sebagai salah satu upaya mencapai target inklusi keuangan, sejak 2016 OJK bersama dengan kementerian dan lembaga (KL) maupun lembaga jasa kuangan telah menginisiasi Bulan Inklusi Keuangan (BIK) setiap Oktober yang merupakan agenda nasional.

Baca :  NPI Triwulan II 2016 Surplus USD2,2 Miliar

“Perlu kami sampaikan bahwa salah satu fokus utama kegiatan BIK tahun ini adalah untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, termasuk meningkatkan pemahaman keuangan masyarakat, serta mengakselerasi penambahan rekening, penggunaan produk dan layanan keuangan,” papar Tirta.