Efek Evergrande: Pasar Real Estat RI Sulit Bekerja Sama dengan Developer China

Grant Thornton

JAKARTA-Perusahaan jasa audit, Grant Thornton Indonesia menilai, saat ini pasar real estat Indonesia mulai mengalami kesulitan untuk bekerja sama dengan pengembang China yang telah terdampak oleh krisis utang perusahaan raksasa properti, Evergrande.

Menurut CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani dalam siaran pers yang dikirim melalui surat elektronik, Selasa (23/11), salah satu kekhawatiran dari efek Evergrande adalah kenaikan biaya dana (cost of fund), karena dengan adanya biaya dana tinggi, maka pengembang China yang ada di Indonesia akan tertekan.

Sehingga, lanjut dia, hal tersebut menyebabkan developer China tidak bisa lagi mencari pendanaan di Indonesia, akibat biaya dana yang tinggi.

Akhirnya, pasar real estat di Indonesia akan sulit bekerja sama dengan pengembang asal China.

Baca :  Grant Thornton: Dampak Tapering-off Tahun Ini Tak Seberat di 2013

“Tidak dapat dipungkiri kasus Evergrande dapat membawa dampak negatif yang berhubungan erat dengan masuknya jumlah investasi asing ke Indonesia. Namun, kita harus melihat bahwa investasi properti di Indonesia masih didominasi oleh investor lokal yang sangat memperhatikan pergerakan pasar dalam negeri,” papar Johanna.

Sehingga, lanjut dia, kondisi pasar properti di dalam negeri lebih dipengaruhi oleh iklim investasi dan pergerakan perekonomian domestik.

“Selain itu, kita juga harus optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi akan naik di 2022. Terlebih lagi program pembangunan infrastruktur dari pemerintah ikut mendorong sektor properti untuk bertumbuh dan berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Dia menyebutkan, tren pemulihan ekonomi nasional tercermin dari data dari Bank Indonesia (BI) yang mencatat kredit kepemilikan rumah (KPR) bertumbuh 8,7 persen per September 2021.

Baca :  Grant Thornton: Dampak Tapering-off Tahun Ini Tak Seberat di 2013

“Evergrande tidak berdampak negatif terhadap sektor properti di Indonesia secara keseluruhan,” tegas Johanna.

Tetapi, kata dia, dampak dari Evergrande berpengaruh terhadap kondisi pasar keuangan, terutama pada surat berharga negara (SBN) dan pasar saham di Indonesia, meski saat ini mulai kembali pulih.

Lebih lanjut Johanna menyampaikan, potensi imbas ke Indonesia juga dapat dilihat dari dua sisi, yaitu ekspor dan utang.

Krisis likuiditas Evergrande bisa berdampak pada penurunan kinerja ekspor yang berorientasi dengan material properti, seperti besi baja, keramik, bahan tambang sampai kayu yang masuk ke dalam rantai pasok industri properti di China.

Jika Evergrande gagal untuk melakukan pembayaran, maka jelas Johanna, hal ini akan berdampak negatif pada bursa saham di Indonesia, karena investor asing akan menyesuaikan kembali portofolio kepemilikannya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca :  Grant Thornton: Dampak Tapering-off Tahun Ini Tak Seberat di 2013