Fitch: Kebijakan Makro Sulit Merespons Kenaikan Inflasi, Jika Omicron Tetap Bertahan

pertumbuhan penerbitan sukuk global selama Kuartal II-2021 didukung oleh peningkatan minat investor untuk menempatkan modal di instrumen suku, adanya kebutuhan refinancing dan diversifikasi pendanaan yang dilakukan oleh emiten.
ilustrasi

JAKARTA-Fitch Ratings Ltd menilai bahwa terlalu dini untuk memasukkan faktor terkait virus korona varian baru, Omicron ke dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Namun kenaikan inflasi disinyalir akan sulit direspons oleh kebijakan makroekonomi, jika virus varian baru ini tetap bertahan.

Penilaian itu di oleh Chief Economist Fitch Ratings (London), Brian Coulton dalam siaran pers yang dikirim melalui surat elektronik, Selasa (30/11).

Dia menegaskan, sejauh ini belum bisa memasukkan virus Omicron sebagai salah satu variabel untuk menentukan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, sebelum diketahui tingkat transmisi dan keparahan dari virus tersebut.

Dia mengatakan, pada tahun ini penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi global tidak lebih parah dibandingkan dengan kondisi di Semester I-2020, meskipun kembali muncul virus varian baru setelah varian Delta.

Baca :  Evaluasi Anggaran, Kementan Sediakan Rp700 Miliar untuk Tangani Covid-19

“Penurunan pertumbuhan ekonomi global seperti di 1H20, sangat kecil kemungkinannya,” ujar Brian.

Tetapi, jelas dia, kenaikan inflasi akan menyulitkan para pembuat kebijakan makroekonomi apabila keberadaan Omicron tetap bertahan.

Pada 26 November 2021, WHO menyebutkan bahwa Omicron telah memicu kekhawatiran, karena proses mutasi dan penyebarannnya lebih cepat.

“Pada 28 November 2021, WHO mengatakan belum jelas apakah Omicron lebih menular daripada varian lain, termasuk Delta. Hingga saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala Omicron lebih buruk,” tutur Brian.

Dia mengatakan, untuk merespons keberadaan Omicron, maka perlu adanya intervensi non-farmasi (NPI) secara signifikan, seperti pengetatan pembatasan sosial.

Namun, upaya menahan penularan virus ini berisiko bagi keberlanjutan ekonomi global.

Baca :  Cegah Penyebaran Virus Corona, Bank DKI Dorong Transaksi Non Tunai

“Pengalaman di sebagian besar negara maju menunjukkan bahwa setiap gelombang infeksi virus korona memiliki efek terhadap pertumbuhan yang semakin berkurang pada saat kondisi ekonomi sedang beradaptasi, seperti perubahan pola kerja dan konsumsi,” papar Brian.