OJK: Sektor Keuangan Terjaga, Penghimpunan Dana di Pasar Modal Tumbuh 300,7%

kondisi stabilitas sistem keuangan berdasarkan data September 2021 masih terjaga, dengan kinerja yang terus bertumbuh positif tercermin dari pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana di pasar modal
Ilustrasi

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, sejauh ini sektor jasa keuangan tetap tercatat stabil dan melanjutkan tren pertumbuhan, bahkan nilai penghimpunan dana di pasar modal per 22 November 2021 mengalami pertumbuhan hingga 300,7 persen (year-on-year).

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) periode November 2021 yang dikutip Kamis (25/11), penghimpunan dana di pasar modal hingga 22 November 2021 mencapai Rp312,4 triliun atau meningkat 300,7 persen (y-o-y).

Laporan RDKB OJK menyebutkan, saat ini jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dan sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 43 emiten, termasuk pencatatan perdana saham BINO dan DEPO.

“Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih baik”.

OJK juga mencatat bahwa sektor jasa keuangan tetap stabil dan terus bertumbuh, tercermin dari semakin meningkatnya fungsi intermediasi di sektor perbankan maupun industri keuangan nonbank (IKNB).

OJK mengaku, kinerja sektor keuangan yang terjaga tersebut sejalan dengan kerja pengawasan yang dilakukan OJK, serta relatif terkendalinya pandemi Covid-19 dan meningkatnya mobilitas yang berdampak pada peningkatan aktivitas perekonomian.

Rapat Dewan Komisioner Bulan November 2021 juga mencatat, aktivitas perekonomian global semakin pulih, namun tetap perlu dicermati tren kenaikan kasus positif Covid-19 di kawasan Eropa yang kembali berujung pada peningkatan pembatasan mobilitas masyarakat.

Baca :  Mei 2020, Penghimpunan Dana Dari Pasar Modal Tembus Rp 32,6 Triliun

“Selain itu, perlu juga dicermati dampak tapering off yang dilakukan oleh AS dan rencana normalisasi kebijakan ekonomi dan moneter di beberapa negara ekonomi utama dunia seiring kenaikan inflasi yang persisten”.

Sampai dengan akhir September 2021, OJK menyebutkan bahwa indikator perekonomian domestik menunjukkan pemulihan.

Di tengah kenaikan kasus Covid-19 akibat penyebaran varian Delta, pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal III-2021 tetap dapat dijaga positif, karena ditopang oleh kekuatan kinerja sektor eksternal dan pertumbuhan investasi yang relatif tinggi.

“Meskipun The Fed telah melakukan tapering off di November 2021, namun pasar saham Indonesia dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih dapat menguat, serta menjadi salah satu pasar keuangan dengan kinerja terbaik di emerging markets,” demikian disebutkan OJK.

Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI berhasil mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada 19 November 2021 di level 6.720 atau mengalami kenaikan 2 persen (month-to-date) dan sebesar 12,4 persen (year-to-date).

Baca :  JK: Sektor Konsumtif Tak Memberikan Multiplier Effects

Sementara itu di pasar SBN hingga 19 November 2021, investor nonresiden mencatatkan outflow sebesar Rp24,1 triliun dengan rata-rata yield menguat -7,3 basis poin, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk tidak melakukan bond issuance hingga akhir 2021.

Fungsi intermediasi perbankan pada Oktober 2021 kembali mencatatkan tren peningkatan, yakni kredit bertumbuh 3,24 persen (y-o-y) atau sebesar 3,21 persen (y-t-d).

Secara sektoral, kredit sektor utama tercatat mengalami peningkatan terutama pada sektor manufaktur dan rumah tangga, dengan peningkatan masing-masing sebesar Rp5,3 triliun dan Rp8,8 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) mencatatkan pertumbuhan 9,44 persen (y-o-y).

Di sektor IKNB, sektor asuransi berhasil menghimpun premi per Oktober 2021 sebesar Rp23 triliun dengan nilai premi Asuransi Jiwa sebesar Rp14,1 triliun dan Asuransi Umum maupun Reasuransi sebesar Rp8,9 triliun.

Selain itu, fintech peer to peer (P2P) lending per Oktober 2021 mencatatkan pertumbuhan outstanding pembiayaan sebesar 110,7 persen (y-o-y) atau senilai Rp420 miliar (secara y-t-d sebesar Rp12,59 triliun).

Piutang perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp359 triliun.

Seiring dengan membaiknya kinerja sektor jasa keuangan domestik, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Oktober 2021 tetap terjaga baik, dengan rasio kerdit macet (NPL) nett sebesar 1,02 persen (NPL gross: 3,22 persen) dan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan sebesar 3,89 persen.

Baca :  Satgas Waspada Investasi Temukan Lagi 125 Fintech Ilegal

“Restrukturisasi kredit Covid-19 masih melanjutkan tren penurunan di Oktober 2021. Secara sektoral, sektor ekonomi utama yang terdampak Covid-19, yaitu perdagangan dan manufaktur telah menunjukkan perbaikan dengan pergerakan masing-masing sebesar -23,1 persen (y-o-y) dan -35,9 persen (y-o-y)”.

Sementara itu, Posisi Devisa Neto (PDN) Oktober 2021 tercatat sebesar 1,97 persen atau berada jauh di bawah threshold sebesar 20 persen.

Likuiditas industri perbankan pada Oktober 2021 berada pada level yang memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit dan Alat Likuid/DPK masing-masing sebesar 154,59 persen dan 34,05 persen.

Dari sisi permodalan, industri perbankan mencatatkan peningkatan rasio kecukupan modal (CAR) menjadi sebesar 25,34 persen, industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan peningkatan Risk Based Capital (RBC) masing-masing menjadi 605,9 persen dan 352,0 persen.

Begitu pula pada gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 1,93 kali atau jauh di bawah batas maksimum 10 kali.