Puan Maharani

MH, Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR RI yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Bidang Perekonomian Periode 2019-2024.

Oleh: Said Abdullah

Namanya Puan Maharani Nakhshatra Kusyala Devi. Lahir di Jakarta, Kamis, 6 September 1973.

Masyarakat mengenalnya Puan Maharani saja.

Nama Puan kental dengan kata bahasa Sansekerta dan kombinasi Bahasa Hawai, Yunani dan Bangali.

Maharani, kata sanskerta  artinya Ratu atau Pemimpin Perempuan.

Puan kata Hawai artinya Bunga, Nakhshatra bahasa Yunani artinya minuman lezat, yang juga menunjukan orang bertalenta seni.

Kusyala bahasa Bangla (Bangali) artinya teknik.

Puan Maharani berarti pemimpin perempuan yang memiliki keindahan.

Hari-hari ini namanya kian berkibar. Di panggung politik dia tak pernah sepi dari pemberitaan.

Ada yang memuji namun tak kurang juga yang mencibir.

Semua gara-gara tahun politik jelang Pilpres 2024.

Puan memang tengah menjadi magnet politik nasional.

Sedikit ke belakang.

Puan masuk politik pertama kali duduk di DPR RI pada 2009 saat usianya 36 tahun.

Saat itu pula Puan langsung tancap gas memegang kendali Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI.

Catat! PDI Perjuangan ketika itu mampu menunjukkan kelasnya sebagai oposisi bagi pemerintahan SBY yang menjadi modal PDI Perjuangan memenangi Pemilu 2014.

Jalan politiknya terus menanjak.

Tahun 2014 Puan kembali terpilih dengan dukungan suara terbanyak di antara 560 anggota DPR RI 2014-2019.

Saat itu juga Presiden terpilih Joko Widodo mengangkatnya sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), sebuah nomenklatur kementerian yang dibentuk untuk memastikan kerja pengembangan manusia Indonesia sesuai spirit perjuangan Trisakti Bung Karno;  berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

Puan lagi-lagi memperlihatkan kelasnya.

Dia tampak semakin matang bisa mengendalikan urusan strategis di bawah koordinasi Kemenko PMK untuk urusan agama, kesehatan, kependudukan, kesejahteraan sosial, perempuan dan anak, disabilitas, kebencanaan, pendidikan, pemuda dan olahraga, dan pemberdayaan masyarakat.

Baca :  Ibukota Negara Masa Depan

Catat! Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2014 tercapai 68,8% dan meningkat menjadi 69,5% pada 2015 dari target sasarannya 76,3% untuk tahun 2019.

Ingat pula, Puan ketika itu dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengarah Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVII dan Kemenko PMK bertugas membantu Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam persiapan infrastruktur, prestasi, dan penyelenggaraan.

Semua tahu even besar itu sukses poll.

Di bawah koordinasi Puan juga Indonesia berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, yakni dari 11,2 persen pada tahun 2015 menjadi 10,8 persen di tahun 2016.

Secara menyeluruh, berkurang 590 ribu penduduk miskin di Indonesia saat itu.

Lagi-lagi Ingat!! Puan ketika itu tercatat sebagai Menteri termuda di Kabinet Jokowi-JK.

Puan makin moncer. Tahun 2019 dia kembali dipercaya masyarakat untuk duduk di DPR RI.

Ditempa banyak pengalaman dan sepak terjang mengendalikan 8 kementerian/lembaga, Puan mendapat mandat baru sebagai Ketua DPR RI. Woow!!

Posisi sangat penting dan strategis untuk mengendalikan parlemen dalam sebuah pemerintahan presidensial.

Puan tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai Ketua DPR RI perempuan pertama dan termuda.

Usianya ketika dilantik 46 tahun.

Dua tahun berjalan, DPR RI di bawah Puan punya warna baru.

Boleh dicatat! Beberapa legislasi memberi warna keberpihakannya pada perjuangan perempuan.

Sebut saja RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) yang selama 16 tahun terkatung-katung, mulai dikebut pada masa kepemimpinan Puan.

Saat ini RUU PPRT sedang menanti pengesahan.

Termasuk RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang juga tidak akan lama lagi diketok.

Bukan itu saja. Kepemimpinan Puan di DPR RI mampu menciptakan stabilitas politik sehingga agenda strategis pemerintah mampu dikawal dengan baik.

Baca :  PDI Perjuangan Usung Said-Buchori di Pilgub Jatim

Kalau tidak punya kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang kuat, bagaimana mungkin fraksi-fraksi di DPR RI bisa solid?

Bukan Politisi Panggung

Repotnya memang, Puan bukan politisi yang pandai memanggungkan diri.

Puan bukan juga aktor yang pandai bermain drama dengan pencitraan atau Pansos ala media sosial.

Puan adalah ‘Maharani’ sesungguhnya yang punya jatidiri dan karakter kuat, apa adanya, sungguh-sungguh bekerja, dan irit bicara.

Pun ketika berbicara, sangat terukur.

Pernyataan politiknya tidak pernah liar.

Dia bukan politisi genit yang mengutamakan panggung dan hura-hura publikasi berlebihan.

Puan sangat paham, pemimpin sejati adalah yang berakar kuat pada jatidiri kepemimpinan bukan yang mengada-ada atau seolah-olah punya ada.

Puan bukan politisi yang mencari popularitas karena dia paham sesungguhnya popularitas itu bisa dipoles dan sifatnya sangat manipulatif.

Puan sudah melampaui itu semua.

Seperti pernah dia sampaikan dalam salah satu kesempatan pembekalan kader PDI Perjuangan di Jawa Tengah, bahwa pemimpin itu bukan hanya muncul di media sosial tapi di lapangan bersama rakyat.

Di DPR RI Puan membawa semangat itu.

Dia tak boleh jauh dari hiruk pikuk rakyat sehari-hari.

Ketika rakyat mengeluh karena kebijakan tes PCR yang mahal itu, Puan tak segan-segan meminta pemerintah agar membatalkan kebijakan tersebut.

Ketika tak ada yang berbicara nasib anak Yatim Piatu akibat pandemi Covid-19, Puan di depan bersuara agar pemerintah memastikan masa depan anak-anak ini.

DNA Politik Nasionalisme Tulen

Puan memang beda. Membaca Puan pun tidak boleh tunggal. Mungkin publik tak menganggap penting, bahwa Puan tumbuh dan besar di dalam keluarga yang punya adrenalin dan DNA politik jelas dan mumpuni.

Kakeknya Soekarno adalah Proklamator RI, seorang tokoh bangsa yang tak perlu diragukan lagi bakti dan peran besarnya untuk bangsa ini.

Baca :  Said Minta Junjung Tinggi Etika Demokrasi

Ibunya adalah Ketua Umum Partai pemenang Pemilu dua periode berturut-berturut sekaligus Presiden RI ke-5 yaitu Megawati Soekarnoputri.

Siapa tak kenal Megawati yang kerja dan komitmen serta sikap politiknya selalu punya ‘tuah’ dan kharismanya di dalam situasi politik yang sulit sekalipun selalu menjadi sumber inspirasi?

Tak lupa juga, sosok ayah Puan Maharani Alm. Taufiek Kiemas yang oleh banyak kalangan politisi kawakan tanah air mengenangnya sebagai Guru atau mentor Politik.

Maka sulit sekali dibayangkan, sosok Puan yang besar dalam kultur kehidupan tokoh-tokoh politik besar bangsa ini dianggap biasa-biasa saja.

Publik mungkin perlu sedikit kepo, gerak-gerik politik Puan yang terkesan ‘diam’ bahkan saat banyak yang mem-bully dia, Puan sedikit pun tak bergeming.

Dia tidak tampak sebagai politisi ‘Baper.’

Apalagi ketika bicara soal ideologi nasionalisme. Ini patut dicatat sungguh-sungguh!

Bahwa Puan adalah sosok ideologis dan biologis sekaligus dari apa yang kita sebut nasionalisme.

Makanya sekali lagi sulit mengatakan bahwa Puan adalah politisi biasa, apalagi mengecilkan dia semata-mata karena ‘Putri Mahkota’ yang menerima privilese kekuasaan semata.

Puan sudah terbukti lebih besar dari semua anggapan-anggapan itu.

Termasuk Puan pantas dan layak serta mumpuni menjadi pemimpin nasional masa depan sebagai Presiden RI.

Dia ‘Maharani’ sesungguhnya, yang tangguh, berkarakter, yang dipuji tak akan terbang, dihujat tak akan tumbang.

Sebab, dia yakin seperti kata pepatah Latin Kuno, perficit qui persequitur karena yang berhasil adalah dia yang terus bertahan.

Penulis adalah Ketua DPP PDI Perjuangan di Jakarta

Catatan Redaksi: Tulisan Ini sudah dimuat di www.detik.com dengan judul Dibalik Sikap Diamnya Puan