Lampaui ASEAN dan Korea, PMI Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (1/12)

JAKARTA-Selama tiga bulan belakangan ini, sektor industri manufaktur di tanah air masih berada dalam tahap ekspansi.

Hal ini terlihat dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan November yang menempati posisi 53,9 sesuai dengan laporan IHS Markit.

“Kami sangat bersyukur dan memberikan apresiasi atas capaian ini, karena pelaku industri kita masih tetap semangat menjalankan usahanya seiring dengan upaya pemerintah mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (1/12).

Menperin optimistis, sepanjang tahun 2021 ini, industri akan tumbuh sebesar 4-5% apabila tidak ada gejolak kasus atau gelombang susulan dari dampak pandemi Covid-19

“Pemerintah bertekad untuk terus menjaga iklim usaha yang kondusif. Investasi dan produktivitas sektor industri tetap dijaga dengan baik agar bisa terus berjalan,” tuturnya.

Baca :  IOMKI Akan Dicabut Jika Perusahaan Tidak Patuh Protokol Kesehatan

Beberapa indikator yang menujukkan bahwa kinerja sektor industri nasional masih gemilang, antara lain pada capaian nilai ekspornya.

Sepanjang Januari-Oktober 2021, industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sebesar USD143,76  miliar atau meningkat 35,53% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, memberikan kontribusi terbesar hingga 77,16% dari total nilai ekspor nasional selama sepuluh bulan tahun ini yang mencapai USD186,32 miliar.

Capaian positif lainnya tercatat pada penerimaan pajak sektor industri pengolahan yang tumbuh 14,6% pada Januari-Oktober 2021.

Penerimaan pajak tersebut memberikan kontribusi paling besar hingga 29,8% pada periode yang sama.

Merujuk laporan IHS Markit, selama tiga bulan berturut-turut, produksi sektor manufaktur di Indonesia masih mengalami ekspansi seiring dengan dampak Covid-19 yang kian berkurang.

Baca :  Jokowi Apresiasi Investasi Petrokimia PT Chandra Asri

Output dan permintaan baru juga terus naik pada kisaran kuat.

Bahkan, kenaikan lebih lanjut terlihat pada aktivitas pembelian di tengah perbaikan permintaan pasar. Bila dilihat datanya, hanya dua bulan saja PMI Indonesia berada dalam kondisi kontraktif.

Menanggapi hasil survei terkini, Jingyi Pan selaku Economics Associate Director IHS Markit mengatakan, PMI Manufaktur Indonesia pada bulan November menurun dari rekor laju bulan Oktober, namun masih bertahan kuat untuk menandakan pemulihan berkelanjutan dari gelombang COVID-19 Delta.

“Perusahaan juga terus memperluas kapasitas tenaga kerja mereka dan meningkatkan aktivitas pembelian di tengah harapan kenaikan output di masa mendatang, yang mana merupakan tanda positif. Namun demikian, tingkat perpanjangan waktu pengiriman dari pemasok yang berkurang pada bulan November, kemungkinan menggambarkan tanda-tanda perbaikan menuju akhir tahun,” ungkapnya.

Baca :  PMI Manufaktur Indonesia Tembus Level Ekspansif

IHS Markit mencatat, sentimen bisnis secara keseluruhan bertahan positif pada bulan November, namun turun ke posisi terendah dalam 18 bulan.

Responden survei secara umum berharap bahwa pemulihan ekonomi dari gelombang Covid-19 Delta akan terus berlanjut, namun beberapa di antaranya masih khawatir dengan dampak pandemi ini.

PMI Manufaktur Indonesia pada bulan November ini melampaui PMI manufaktur negara-negara di Asia Tenggara.

PMI Manufaktur ASEAN berada di level 52,3. PMI Manufaktur Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan PMI Manufaktur Korea Selatan (50,9) dan PMI Manufaktur China (49,9).