Menyoal Larangan Ekpor Batubara

Inggris memandang bahwa Indonesia merupakan kekuatan utama yang akan menyelamatkan dunia dari bencana perubahan iklim.
Salamuddin Daeng, Pengamat Ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Jakarta

Oleh: Salamuddin Daeng

Presiden Joko Widodo melalui Menteri ESDM telah memerintahkan melarang ekspor batubara untuk satu bulan ke depan.

Memang tidak bagi perusahaan besar,  tapi untuk banyak sekali perusahaan di dalam negeri.

Kampanye pelarangan ekspor Batubara telah dikampanyekan dalam kapasitas sebagai G20 Presidency.

Besar kemungkinan ini juga dalam kapasitas Presiden Jokowi sebagai pimpinan COP 26 Glasgow.

Apakah ini akan membuat negara konsumen Batubara akan meradang? Atau justru produsen Batubara yang meradang karena tidak bisa dapat uang?

Bayangkan negara sedang mengalami krisis liquiditas tapi melarang ekspor di saat harga sedang mantap. Atau ini adalah pertaruhan politik internasional sehingga urusan dagang mendagang dikesampingkan dulu.

Atau sebuah usaha melawan China sebagai konsumen Batubara terbesar di dunia oleh para sekutu AS? Mari kita lihat.

China adalah pasar terbesar Batubara.

Namun China telah memutuskan untuk berhenti membeli Batubara Australia setelah Canbera mengeluarkan dukungan terhadap investigasi China atas wabah pandemic covid 19.

China menanggapi dengan keras menghentikan secara informal impor Batubara Australia, dengan konsekuensi menghadapi krisis listrik terburuk dalam beberapa tahun karena kekurangan Batubara.

Australia memiliki Batubara yang dibutuhkan Beijing, tetapi ekonomi terbesar kedua di dunia itu tidak mungkin membatalkan larangan tidak resmi atas impor Batubara Australia dalam waktu dekat.

China berhenti membeli Batubara dari Australia akhir tahun lalu, setelah Canberra mendukung seruan untuk penyelidikan internasional tentang bagaimana Beijing menangani wabah Covid-19.

Ini jelas dipandang berpotensi sebagai upaya menuduh China sebagai dalang dibalik virus covid 19.

Indonesia adalah eksportir Batubara kedua setelah Australia.

Data resminya sekitar 550 juta ton setahun.

Angka sebenarnya bisa lebih besar dari itu. Telah menjadi pengetahuan umum internasional bahwa ekspor negara ini jauh lebih besar dari yang dilaporkan.

Modus ekspor ilegal, ekspor yang tidak dilaporkan masih sangat marak.

Baca :  Amblasnya Keuangan PGN, Bagaimana Tanggungjawab Sinuhun Pada Rakyat ?

Walaupun harga Batubara  internasional telah naik pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah, namun Indonesia harus mengadu nyali.

Tampaknya ini adalah solidaritas dengan sekutunya Australia dalam hal ekspor.

Patut diingat bahwa banyak perusahanan tambang Batubara di Australia adalah milik pengusaha Indonesia.

Lima besar batubara Indonesia menguasai tambang Australia.

Salah satunya Adaro sebuah perusahaan tambang besar Batubara dan sangat berkuasa memiliki tambang di Australia.

Berikut perusahaan tambang Batubara Indonesia the big four yang menguasai tambang di Australia:

Pertama, PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

ADRO resmi mengakuisisi Kestrel Coal Mine (Kestrel) pada 1 Agustus 2018 dari Rio Tinto. Setelah akuisisi tersebut, kepemilikian ADRO pada Kestrel menjadi sebesar 80%.

Kestrel adalah aset Batubara metalurgi berkualitas yang memiliki basis sumber daya dengan usia yang panjang, infrastruktur yang solid, dan tenaga kerja dengan keahlian tinggi.

Tambang ini terletak 40 kilometer (KM) di utara kota Emerald yang berada di area Batubara Bowen Basin, di tengah negara bagian Queensland, Australia.

ADRO bekerja sama dengan EMR Capital untuk mengakuisisi Kestrel melalui Kestrel Coal Resources Pty Ltd.

Kepemilikan ADRO pada Kestrel Coal Resources adalah sebesar 48% dan EMR Capital sebesar 52%.

Nilai akuisisi Kestrel Coal Mine mencapai US$ 2,25 miliar.

Setelah transaksi rampung, kepemilikan atas Kestrel meliputi Kestrel Coal Resources Pty Ltd (80%) dan Mitsui Coal Australia (20%).

Kestrel memproduksi 4,25 juta batu bara kokas. Kestrel juga masih memiliki cadangan batu bara 117 juta ton.

Sehingga, jika melihat pada besarnya kapasitas produksi tersebut, otomatis akan mengerek kapasitas produksi Adaro, dan diperkirakan bakal naik tiga kali lipat menjadi 3 juta ton per tahun.

Kedua, PT Harum Energy Tbk (HRUM)

HRUM baru saja merampungkan transaksi pembelian saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Limited, sebesar AUD 34,26 juta atau setara Rp 369 miliar.

Baca :  Kasus Jiwasraya, Daeng: Ada Apa Dengan Kejagung, Kok Belum Panggil Rini Soemarno?

Dalam keterbukaan informasi Juni silam, Ray Antonio Gunara selaku Direktur Utama HRUM menjelaskan, perseroan telah membeli sebanyak 68.530.577 saham Nickel Mines Limited atau setara dengan 3,22% saham. Transaksi ini terjadi pada 29 Mei 2020.

Akuisisi saham Nickel Mines Ltd, merupakan investasi dan bagian dari diversifikasi usaha perseroan ke sektor non Batubara.

Nickel Mines Limited, adalah perusahaan publik asal Australia yang bergerak di bisnis tambang yang memproduksi nickel pig iron (NPI), salah satu bahan utama dalam produksi baja tahan karat (stainless steel).

Nickel Mines memegang kepemilikan 60% di proyek Hengjaya Nickel dan Ranger Nickel, keduanya mengoperasikan pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi NPI di Indonesia Morowali Industrial Park.

Ketiga, PT Indika Energy Tbk (INDY)

INDY baru saja menandatangani Scheme Implementation Deed untuk mengambil alih Nusantara Resources Limited milik Australia yang melantai di Bursa Efek Australia dengan kode NUS.

Perusahaan ini mengelola tambang emas Awak Mas di Luwu, Sulawesi Selatan melalui mekanisme Scheme of Arrangement.

INDY membayar AU$ 0,35 per saham untuk 168.041.107 saham yang belum dimiliki oleh perusahaan, sehingga total transaksinya adalah sebesar AU$ 58,8 juta atau ekuivalen dengan US$ 45,3 juta atau sekitar Rp 656,8 untuk sekitar 72% saham di NUS.

Direktur Utama INDY, Arsjad Rasjid mengatakan, rencana transaksi ini merupakan langkah strategis perseroan untuk meningkatkan eksposure di sektor pertambangan emas dan memperkuat diversifikasi bisnis perusahaan.

INDY melalui anak usahanya PT Indika Mineral Investindo (IMI), saat ini memiliki sekitar 28% saham di Nusantara serta kepemilikan saham secara langsung di PT Masmindo Dwi Area (Masmindo) yang mengelola tambang emas Awak Mas sebanyak 25%.

Baca :  ADRO Siap Bangun Smelter Aluminium Senilai USD728 Juta

Keempat, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)

Terbaru, GEMS yang merupakan salah satu perusahaan Grup Sinarmas di sektor pertambangan, melalui anak usahanya, Stanmore Resources Ltd, baru saja mengakuisisi 100% aset perusahaan tambang batu bara yang berlokasi di Queensland, Millennium and Mavis Downs Mine dari Peabody Energy Australia.

Tambang Millenium dan Mavis Downs terletak di Moranbah, dekat proyek Isaac Downs Stanmore Coals.

Akuisisi ini dilakukan melalui MetRes Pty Ltd, perusahaan patungan antara Stanmore dengan M Resources.

Stanmore dan M Resources memberikan uang muka tunai sebesar AUD 1,25 juta dan pembayaran royalti AUD 1,25 juta kepada Peabody Energy Australia.

Royalti super hingga AUD 3,5/ton juga akan dibayarkan untuk maksimal 5 tahun kepada Peabody jika harga batu bara kokas premium berada di atas US$ 175/ton FOB Australia.

Akuisisi ini mencakup akses ke 0,5 juta ton per tahun rel jangka panjang dan kapasitas pelabuhan, serta 349ML pasokan air mentah jangka panjang untuk mendukung dimulainya penambangan, dan semua hak kontraktual terkait dan kewajiban.

Batubara australia tidak bisa dipasarkan ke Indonesia yang over produksi dan memiliki regulasi yang mementapkan harga di bawah pasar.

Jadi perusahaan tambang Australia terancam gulung tikar.

Karena satu satunya andalan ekspor  mereka adalah China, konsumen terbesar Batubara di dunia.

Tetapi China lebih memilih melakukan pemadamam listrik, harga diri mereka di atas segalanya.

Namun yang terkena pertama adalah perusahaan investasi asing yang menikmati listrik murah China jauh dibawah harga listrik Indonesia.

Tambang Batubara Australia amblas kehilangan pasar terbesarnya. Indonesia datang di belakang membantu Australia menghadapi perang pertarungan harga diri China vs Australia.

Siapa pemenang? Kita lihat saja.

Penulis adalah Pengamat Ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Jakarta