80% Perusahaan Meningkat Pendapatannya dengan Berinvestasi di Internet

SINGAPURA-Sebuah organisasi layanan Tehnologi Informasi (TI), konsultasi, dan solusi bisnis global yang terkemuka, Tata Consultancy Services (TCS) merilis sebuah studi global baru yang membahas dampak teknologi Internet of Things (IoT) di beraneka ragam sektor industri di seluruh dunia. Hasil survey menyebutkan lebih dari 80% perusahaan meningkat pendapatannya dengan berinvestasi dalam IoT.
Studi Tren Global TCS mengenai IoT, yang melakukan survey 795 eksekutif dari perusahaan-perusahaan multi-nasional besar, mengidentifikasi potensi besar untuk meningkatkan pendapatan dari IoT, sambil sekaligus menyoroti tantangan signifikan yang menghadang perusahaan-perusahaan yang tengah bertransisi ke model yang baru ini. “Era IoT sudah berlangsung cukup lama. Pertanyaannya adalah, apakah kalangan bisnis siap merealisasikan potensi penuh dari teknologi ini. Studi tren global kami yang terakhir menemukan bahwa untuk memanfaatkan teknologi IoT ini, para pemimpin menggunakannya untuk mengimajinasikan kembali sepenuhnya bisnis mereka dengan mengubah setiap aspek bisnis mereka itu dari model dan produk bisnis ke proses bisnis dan tempat kerja,” ujar CEO dan MD TCS Natarajan Chandrasekaran, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/7).
Menurutnya, sekaranglah waktunya bagi setiap pemimpin di setiap industri untuk mengimajinasikan kembali kemungkinan-kemungkinan yang ada bagi bisnis mereka dalam dunia ‘benda-benda’ yang terhubung, dan cerdas.
Dalam segala sektor, perusahaan yang berinvestasi dalam IoT melaporkan kenaikan pendapatan yang signifikan sebagai hasil dari inisiatif IoT dengan rata-rata kenaikan sebesar 15,6 persen pada tahun 2014. Hampir satu dari sepuluh (9 persen) mengalami kenaikan sedikitnya 30 persen dalam pendapatan mereka.
Eksekutif perusahaan masih melihat IoT sebagai area yang bertumbuh untuk bisnis, dengan 12 persen mengidentifikasi pengeluaran terencana sebesar $100 juta pada tahun 2015 dan 3 persen bersiap untuk menginvestasikan minimum $1 miliar di antara 795 perusahaan yang disurvei. Laporan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan memprediksi anggaran IoT mereka akan terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan pengeluaran diperkirakan akan bertumbuh sebesar 20 persen pada tahun 2018 menjadi $103 juta.
Perusahaan-perusahaan pada garis terdepan dari gerakan inovasi melalui IoT ini adalah pihak yang mendapatkan keuntungan yang terbesar dari investasi mereka. Delapan persen teratas responden, berdasarkan ROI dari IoT, melaporkan rata-rata kenaikan pendapatan yang luar biasa sebesar 64 persen pada tahun 2014 sebagai hasil langsung dari investasi ini. Saat ini dampak bisnisnya yang terbesar ialah bahwa perusahaan dapat menawarkan kepada pelanggan produk dan layanan yang bisa dipesan sebelumnya, tetapi pada tahun 2020, hal ini akan berubah dari fungsi pemasaran menjadi kenaikan penjualan, melalui penambahan nilai yang cukup besar bagi pelanggan.
Ini tercermin dalam temuan bahwa penggunaan teknologi IoT yang paling sering oleh perusahaan adalah melacak pelanggan melalui aplikasi seluler, yang digunakan oleh hampir setengah dari semua bisnis (47 persen). Lebih dari separuh (50,8 persen) pemimpin IoT mengakui telah berinvestasi dalam IoT untuk melacak produk mereka dan bagaimana kinerjanya dalam penggunaan, sementara hal ini hanya dilakukan oleh 16,1 persen responden yang mendapatkan ROI terendah dari IoT.
Meskipun ada data yang sangat menguatkan terkait dengan investasi IoT dan dampaknya terhadap pertumbuhan pendapatan, laporan ini juga mengungkapkan masih adanya berbagai tantangan besar untuk mewujudkan janji-janji IoT untuk bisnis pada semua sektor. Laporan ini mendapati bahwa tiga faktor terbesar yang menahan perusahaan. Pertama, bBudaya perusahaan: Responden mengidentifikasi kemampuan untuk membuat karyawan mengubah cara berpikir mereka tentang pelanggan, produk, dan proses sebagai penghalang besar; Kedua, kepemimpinan: Memiliki eksekutif tingkat teratas yang memiliki keyakinan akan IoT dan bersedia untuk menginvestasikan waktu dan sumber daya adalah sangat penting dan Ketiga Teknologi: Berbagai pertanyaan seputar teknologi masih terus menggelantung termasuk penanganan Data Besar; pengembangan internal vs eksternal; mengintegrasikan data IoT dengan sistem perusahaan; dan memastikan keamanan serta keterandalan.
Sektor Pelayanan Kesehatan telah digadang-gadang sebagai sektor yang memiliki potensi terbesar untuk mendapatkan manfaat dari IoT, tetapi masih merupakan salah satu industri yang paling kurang berkembang dalam teknologi ini karena batasan regulasi dan kekhawatiran akan keamanan data yang saat ini merintangi inovasi. Sektor ini berencana untuk membelanjakan sekitar 0,3 persen pendapatan pada tahun 2015, tetapi akan meningkatkan investasi ini sedikitnya 30 persen pada tahun 2018. Pasar pelayanan kesehatan yang digerakkan oleh IoT diprediksi memiliki nilai $117 miliar pada tahun 2020.
Sebaliknya, para eksekutif dalam sektor Manufaktur Industri melaporkan kenaikan pendapatan terbesar dari IoT, dengan rata-rata 28,5 persen, disusul oleh Layanan Keuangan (17,7 persen) dan Media & Hiburan (17, 4 persen). Industri otomotif mengalami kenaikan pendapatan terendah dengan kenaikan hanya 9,9 persen.
Laporan tersebut, yang mengamati tren pada 13 industri utama, menemukan bahwa investasi skala besar dalam infrastruktur dan pemantauan IoT tidak terbatas pada perusahaan dalam bidang Manufaktur, namun bahwa sektor Perjalanan, Transportasi, dan Keramahtamahan (hotel, restoran, kafe) juga berencana untuk membelanjakan 0,6 persen pendapatan mereka tahun ini. Perusahaan Media dan Hiburan akan membelanjakan 0,57 persen dari pendapatan mereka untuk IoT pada tahun ini, secara signifikan lebih dari 0,4 persen rata-rata dan 0,44 persen dibelanjakan dalam Layanan Perbankan dan Keuangan.

Baca :  Menperin Ajak Pengusaha Polandia Berinvestasi di Indonesia