Air Mata Buaya Hamidah

Jumat 11 Mar 2016, 6 : 22 pm

Denying the truth doesn’t change the facts.

Masih ingat kan saat si Hamidah yang meraung-raung histeris di  depan kamar jenasah di rumah sakit Sanglah menangisi jenasah Engeline Megawe, anak kandung yang hanya dirawatnya sampai umur 3 hari? Dan publik yang melihat hal itupun sampai jatuh kasihan pada Hamidah,  yang dimata mereka  Hamidah adalah ibu kandung yang telah mengandung dan melahirkan Engeline ke dunia, pastilah sangat berduka telah kehilangan seorang anaknya tersebut dengan cara tragis. Publik melupakan bahwa pada kenyataannya si Hamidah ini sebenarnya tidak mengenal sama sekali Engeline, anak yang kematiannya ditangisinya tersebut. Anak yang keberadaannya pernah terlupakan begitu saja, karena setelah Hamidah memberikan Engeline yang masih bayi pada orang lain, ternyata Hamidah memutuskan utk hamil lagi. Banyak yang hanya bisa mengelus dada.  Tidak bisa dimengerti dan tidak bisa dipahami tapi begitulah keadaannya.

Screen Shot 2016-03-10 at 14.42.34

Mungkin publik telah melupakan..
Bukan Hamidah tapi Margrietlah yang terjaga setiap malam ketika Engeline yang masih bayi menangis karena popoknya harus di ganti.
Bukan Hamidah tapi Margrietlah yang terjaga setiap malam ketika Engeline yang masih bayi menangis karena haus dan lapar,  minta susu.
Bukan Hamidah tapi Margrietlah yang terjaga setiap malam melawan kantuk ketika Engeline yang masih bayi menangis terbangun dan harus ditimang dan dininabobokan sampai tertidur lagi.
Margrietlah yang ada ketika Engeline pertama kali telungkup, duduk, merangkak, mengucapkan kata pertama dan belajar berjalan …
Dan Margrietlah yang membelikan ice cream, sosis, burger, roti dan susu kesukaan Engeline..
Margrietlah satu-satunya Mama yang dikenal Engeline selama hidupnya
Margrietlah  satu-satunya wanita mendapat panggilan Mama dari Engeline yang kelihatan manja pada ibunya, seperti yang terlihat dalam  foto-fotonya.

Screen Shot 2016-03-10 at 15.06.21

Tapi siapa menurut publik yang paling berhak berduka? yang paling berhak menguras air mata di media? yang paling berhak menerima ucapan duka? yang paling berhak mengantar Engeline ke peristirahatannya yang terahkir?? Hamidah.
Hamidahlah tiba-tiba yg paling berhak mengklaim dirinyalah satu-satunya ibu Engeline di dunia, satu-satunya ibu yang berhak memamerkan kesedihannya pada dunia karena  telah kehilangan seorang anaknya dengan cara tragis. Dan Hamidahlah satu-satunya ibu yang merasa paling berhak menjual kesedihannya di media…

Publik melupakan, ada orang-orang yang sebenarnya paling berduka menangisi kepergian Engeline yang tragis, orang-orang yang ada dalam lingkaran hidup Engeline. Adalah Margriet Megawe satu-satunya ibu yang dikenal Engeline. Adalah Yvonne dan Christine, dua kakak yang selama ini rajin mengabadikan keceriaan dan kebahagiaan adiknya melalui kamera, yang memperkenalkan kita semua pada Engeline yang cantik seperti yang terlihat dalam foto-foto dan videonya.

Screen Shot 2016-03-10 at 14.47.47

Publik yang tanpa rasa belas kasihan sudah merampas hak duka mereka, hak duka seorang ibu yang kehilangan anaknya secara tragis, hak duka seorang kakak yang tidak akan pernah lagi bisa bertemu adik yang mereka sayangi. Hak duka yang terenggut paksa karena publik dengan kejam telah melempar hujatan, makian dan ancaman di luar kemanusiaan lewat media, yang membuat orang-orang yang terdekat Engeline ini ketakutan, dan merelakan kepergian Engeline yang mereka cintai ke peristirahatan terakhir tanpa kehadiaran mereka. Kebencian publik yang mulai membabi buta karena telah terlanjur menyakini fitnah-fitnah jahat yang telah dengan sengaja dihembuskan dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menumpang ketenaran dalam kasus Engeline ini, yang kebetulan banyak mendapatkan perhatian dari seluruh masyarakat dan media di Indonesia. Fitnah-fitnah yang menyatakan bahwa “mereka bertigalah pelaku kejahatan di balik kematian Engeline dengan motif warisan”. Sebuah fitnah yang bermula dari sebuah asumsi pribadi yang mulai kebablasan karena mendapat sambutan publik di Indonesia yang rata-rata masih sangat menyukai gosip & sensansi.

Screen Shot 2016-03-10 at 15.17.22

Kematian Engeline pun tiba-tiba membuat Hamidah merebut kembali peran dan haknya sebagai ibu Engeline dari Margriet Megawe seorang wanita yg membesarkan Engeline selama ini. Dan sebagai ibu kandung Engeline, si Hamidah mulai serakah dan merasa tidak terima hanya mendapat simpati dan ucapan bela sungkawa saja dari publik. Hamidah pun mulai mengharap lebih. Dia mulai berani mengeluh ke media saat sumbangan dana dari publik yang diterimanya masih ada yang kurang, padahal bantuan dana sudah begitu banyak diterimanya dari para simpatisan seperti yang kita baca di media, bahkan ada pejabat telah berbaik hati memberikan jaminan pendidikan pada anak-anak Hamidah sampai universitas, sebuah hal yang patut disyukuri. Masih kurangkah buatmu Hamidah? yang masih belum juga bisa tersenyum..

Hamidah merasa, sebagai ibu yang sudah mengandung dan melahirkan Engeline ke dunia, dialah yang paling berhak terhadap semua yang dihasilkan dari menjual nama Engeline, bahkan di saat boneka-boneka yang diberikan publik untuk Engeline disumbangkan pada anak yatim piatu pun tak luput dari protes Hamidah. Malang sekali nasib Engeline, sewaktu bayi ibu kandungnya rela menukarkannya dengan uang cash yang jumlahnya tak seberapa, sesudah mati pun ibu kandungnya masih ingin kematiannya dapat menghasilkan uang.

Dari situ simpati publik untuk Hamidah mulai berkurang, publik mulai sadar ibu macam apa sebenarnya si Hamidah ini. Dan puncaknya ketika Hamidah yang tak pernah puas dan ingin mengeruk keuntungan lebih banyak dari kematian anaknya dengan memberikan restu sebuah rumah produksi untuk memfilmkan kasus kematian anak kandungnya Engeline dengan imbalan uang,  kekecewaan publik pun mencapai puncaknya. Tidak ada lagi simpati yang tersisa untuk Hamidah, statusnya sebagai orang yang paling berhak berduka atas kematian Engeline dicabut lagi oleh publik, dan sebagai gantinya diberikan pada Hamidah status baru, Hamidah menjadi seorang ibu kandung yang paling hina di dunia.  Seorang ibu yang tidak mempunyai perasaan karena yang ada di dalam kepalanya hanya uang saja.  Publik tidak habis mengerti bagaimana Hamidah bisa memberikan ijin pembuatan film anaknya, padahal proses keadilan untuk kematian anaknya masih diperjuangkan di pengadilan.

Komentar

Your email address will not be published.

Don't Miss

Presiden : Kawal Program KB

YOGYAKARTA-Pemerintah Indonesia terus berupaya merevitalisasi program Keluarga Berencana (KB) agar

Ditjen Pajak Terbitkan Aturan Baru Tentang PBB Migas

JAKARTA-Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan merilis  Peraturan Direktur Jenderal Pajak