Anggito: Covid-19 Berdampak Ekonomi Bagi Daerah di Seluruh Indonesia

Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) Anggito Abimanyu

YOGYAKARTA-Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) Anggito Abimanyu memastikan pandemi Covid-19 berdampak ekonomi bagi daerah di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, respon kebijakan pemerintah daerah dimungkinkan berbeda-beda.

“Sebagai contoh, kecepatan melakukan refocusing dan realokasi APBD untuk penanggulangan pandemi Covid-19 berbeda-beda di setiap daerah (provinsi dan kabupaten/kota),” ujar Anggito disela-sela Dialog Online/Webinar Bidang Organisasi Pengurus Pusat ISEI di Yogyakarta, Rabu (13/5).

Bidang Organisasi PP ISEI menyelenggarakan 3 (tiga) sesi atau putaran Dialog Online ISEI Cabang dengan topik “Dampak Sosial Ekonomi dan Penanganan Kasus Covid-19 di Daerah”.

Sesi atau putaran 1 telah diselenggarakan hari Jumat (08/05/20) untuk wilayah Indonesia Bagian Barat.

Sesi ke-2 dilaksanakan pada hari Rabu (13/05/20) untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah.

Putaran terakhir dilaksanakan besok Rabu (20/05/20) untuk Wilayah Indonesia Bagian Timur.

Adapun tujuan Diskusi Online ISEI Cabang untuk mencari masukan dampak sosial dan penanganan kasus Covid-19 di daerah.

Baca :  Pemprov NTT Gelontorkan Rp 286 Miliar Untuk Pemulihan Terdampak Covid-19

Sesi atau putaran dialog online menampilkan 4 (empat) narasumber yaitu Aldryn Herwani (Ketua ISEI Cabang Bandung), Eko Suwardi (Ketua ISEI Cabang Yogyakarta), Wildan Safitri (Ketua ISEI cabang Malang), dan IB Raka Suardana (Sekretaris ISEI Cabang Bali).

Bertindak selaku moderator Eko Purwanto (Koordinator Wilayah Indonesia Bagian Tengah PP ISEI).

“Salah satu dampak pandemi Covid-19 dan penerapan PSBB di Kota Bandung adalah menurunnya omset UMKM bidang kerajinan sebesar 84 persen”, ungkap Ketua ISEI Cabang Bandung, Aldryn Herwani.

Menurut Aldryn, untuk UMKM bidang saja mengalami penurunan omset sebesar 73 persen.

Dalam materi paparan Aldryn menyatakan bahwa perekonomian Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat masih terkendali, sedangkan perekonomian Indonesia dalam status waspada.

Kemudian Ketua ISEI Cabang Yogyakarta, Eko Suwardi menjelaskan perekonomian DIY Triwulan I-2020 terhadap Triwulan I-2019 mengalami kontraksi atau menurun sebesar sebesar 0,17 persen.

Baca :  Progres Capai 30%, RS Akademi UGM Rujukan Covid-19 Rampung Akhir Mei 2020

Salah satu penyebab kontraksi tersebut adalah menurunnya aktivitas sektor pariwisata khususnya hotel dan restoran.

Sampai dengan akhir bulan April 2020, jumlah hotel yang tutup di DIY sebanyak 98 hotel.

Hal tersebut terkait dengan ditutupnya sejumlah tempat pariwisata di DIY dan dibatalkannya sejumlah event MICE.

Seperti diketahui, sektor pariwisata menjadi penyumbang sekitar 14,1 persen dari PDRB DIY pada tahun 2019.

Sejumlah upaya mitigasi dan pemulihan ekonomi dilakukan oleh Pemda DIY agar kondisi sektor pariwisata tetap mampu bertahan dan nantinya mampu bergerak menuju pemulihan.

“Pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya pendapatan pemerintah Kota Malang pada tahun 2020,” tegas Ketua ISEI Cabang Malang, Wildan Safitri .

Penurunan pendapatan termaksud adalah pendapatan daerah (31 persen), pendapatan asli daerah (46 persen), hasil pajak daerah (64 persen), hasil retribusi daerah (50 persen), hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan (50 persen), dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah (25 peren).

Baca :  Pertamina Foundation Siapkan Wisma Khusus Tenaga Kesahatan COVID-19

Menurut Wildan, implementasi kebijakan ekonomi di daerah untuk menanggulangi pandemi Covid-19 masih berjalan lamban dan kurang tepat.

“Untuk menangani dampak ekonomi pandemi Covid-19, Pemda Bali telah menerapkan skema kebijakan dengan anggaran sebesar Rp 220 miliar,” ungkap Sekretaris ISEI Cabang Bali, IB Raka Suardana.

Skema kebijakan ditujukan untuk kelompok usaha informal, kelompok koperasi, dan kelompok usaha media.

Di samping itu juga disiapkan anggaran sebesar Rp 256 miliar untuk skema kebijakan jaring pengaman sosial (JPS).

Khusus skema di bidang kesehatan keseluruhan, telah dianggarkan sebesar Rp 200 milyar dan khusus kesehatan di desa adat sebesar Rp 75 miliar.

Anggito Abimanyu berharap pada putaran terakhir , partisipan dari pengurus daerah lebih banyak dibandingkan sesi 1 dan sesi 2.

Seperti telah disebutkan, sesi atau putaran terakhir akan diselenggarakan hari Rabu (20/05/20) minggu depan.