Asal Mula Sebutan Ciben, Peranakan Cina Asal Tangerang

Klenteng Boen Tek Bio di Tangerang

Oleh: Raja Tama

Cina Benteng sudah Enam abad menjadi sebuah komunitas peranakan Tionghoa di Kota Tangerang. Mereka tumbuh dan berkembang serta berdiam dalam sebuah komunitas yang lekat dengan kekhasannya sebagai orang Tionghoa. Masyarakat Tangerang menyebut peranakan Cina asal Tangerang ini dengan sebutan Cina Benteng alias Ciben.

Seorang tokoh pecinan, pengurus Klenteng Boen Tek Bio, Oey Tjin Eng, mengisahkan, sebutan Benteng, yang disematkan pada warga peranakan di Tangerang syarat makna. Sebutan ini memiliki nilai historis yang panjang.

Singkat cerita kala itu, Benteng (fort) yang dibangun sekira abad ke-16, dikenal masyarakat pribumi dengan sebutan Benteng Makasar, sebagai pembatas wilayah kesultanan Banten dengan VOC yang dipisahkan oleh aliran Sungai Cisadane.  “Pada tahun itu, kemudian VOC  membebaskan warga sekitar Benteng untuk membuka lahan pertanian. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan warga peranakan yang pandai bertani, untuk mendiami lahan di sekitar Benteng. Begitulah kemudian sebutan Cina Benteng melekat pada peranakan Tionghoa di Tangerang, sampai hari ini”.

Berdasarkan catatan pada kitab Sunda Tina Layang Parahyang, sebenarnya jauh sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia, pria yang biasa dipanggil Engkong Tjing Eng, menjelaskan, muasal kehadiran etnis Tionghoa mendiami tanah Pasundan-Banten-Tangerang.

Waktu itu, tepatnya tahun 1407, bersandar perahu Junk, dibawah pimpinan Chen Ci Lung ke muara Sungai Cisadane, Teluk Naga, dibawah kekuasaan Sanghyang Anggalarang yang merupakan wakil kerajaan Pajajaran, yang berkuasa pada saat itu.  “Melihat 9 orang gadis cantik diantara rombongan Chen Ci Lung, Sanghyang menawarkan untuk mempersunting, dengan kompensasi sebidang tanah dari wilayah kekuasaannya. Sama hal pada laki-laki yang juga menikah dengan penduduk setempat. Hasil dari pernikahan itu disebut dengan peranakan Tionghoa dan cikal bakal Cina Benteng,” ujar Engkong.

Benteng yang dulu kokoh bertengger, saat ini sudah tidak bersisa lagi, Bangunan Benteng itu berubah menjadi sebuah pusat perbelanjaan berkelas di Kota Tangerang.

Hanya tinggal tiga bangunan Klenteng, Boen Tek Bio (pasar lama), Boen Hay Bio (pasar baru), dan Boen San Bio (Serpong) yang menandakan eksistensi keberadaan peranakan Tionghoa di Tangerang.  “Cina Benteng itu disini, ( Peranakan Cina Pasar Lama), karena sebutan Benteng itu memang dulu ada Benteng disini, kemudian ada yang mendiami Sewan, Cisoka, Serpong dan lainya memang bagian Peranakan Cina yang asalnya dari Teluk Naga juga,” kata Engkong bersemangat.

Seiring waktu, profesi yang dilakoni Pecinan Benteng juga beragam, Perlahan tapi pasti, seiring berkembangnya pembangunan Kota, pekerjaan seperti melaut dan bercocok tanam mulai pudar.  “Peranakan yang tinggal di Teluk Naga masih ada yang melaut, karena memang dekat laut, tapi yang disini (pasar lama- red) Sungai Cisadane, lama sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup warga yang tinggal dekat dengan aliran sungai. Untuk generasi sekarang, mereka lebih memilih berdagang dan kerja dikantoran,” bilangnya.

Secara sosial, Cina Benteng dan masyarakat Pribumi asli hidup berdampingan. Keharmonisan sesama antar suku, etnis, agama, budaya, dan seni menjadi satu.  “Terlihat dari kerukunan agama yang terjalin, keserasian dalam bertetangga dan kerja sama saling menguntungkan tercipta sejak ratusan tahun lalu,” tutur Engkong.

Hal itu dibuktikan dengan berdampingnya rumah ibadah seperti mushala yang hampir berdempetan dengan vihara Boen Tek Bio, berdasarkan pantauan beritamoneter.com.

Penulis adalah Wartawan www.beritamoneter.com di Tangerang.