Bank Kecil Bisa Picu Dampak Sistemik

JAKARTA – Ketua Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas), Sigit Pramono mengingatkan agar Bank Indonesia (BI) tidak terlena dengan kinerja perbankan yang masih baik. Pasalnya, krisis ekonomi global tidak menutup kemungkinkan salah satu bank kecil di Indonesia menjadi pemicu krisis yang berdampak sistemik.

“Saya ingin mengingatkan regulator yang sekarang ini BI, nanti Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Meskipun secara umum bank-bank di Indonesia kinerjanya masih baik, tetapi tetap harus ada pengawasan terhadap bank-bank tertentu secara satu per satu,” kata Sigit di Jakarta, Rabu (18/9).

Pada dasarnya, jelas Sigit, masing-masing bank di Indonesia memiliki daya tahan tersendiri dalam menyikapi kondisi perekonomian ekternal dan internal. “Tetapi jangan sampai bank apa pun, baik kecil, menengah dan besar itu menjadi pemicu krisis yang disebut dengan risiko sistemik,” tuturnya.

Sigit mengatakan, industri perbankan Indonesia dengan kondisi umum yang menunjukkan bahwa kinerja bank nasional masih dalam keadaan baik. “Secara nasional, perbankan kita masih bagus. Tetapi, mau tidak mau harus satu-satu bank harus dicermati, karena daya tahan masing-masing bank berbeda,” kata Sigit.

Dia menegaskan, perhatian BI terhadap bank harus terfokus pada kesehatan likuiditas, bukan melulu pada kredit bermasalah (non performing loan/NPL). “Likuiditas itu ibaratnya penyakit jantung yang setiap saat bisa datang, kalau NPL itu seperti penyakit kanker yang tidak langsung seketika menyebabkan kerugian,” ujarnya.

Namun demikian, jelas Sigit, persoalan NPL juga bisa menjadi masalah bagi industri perbankan, karena saat Indonesia memasuki fase krisis, maka bank akan jatuh. “Tetapi, kalau dalam keadaan masih normal seperti sekarang ini, yang perlu diperhatikan adalah likuiditas. Kalau kualitas kredit, pengarungan memang ada, tetapi itu terjadi belakangan,” katanya.

Baca :  OJK Tetapkan Batas Atas Suku Bunga Dana Perbankan