BI Kurang Peka Terhadap Pergerakan Kurs

Monday 30 Mar 2015, 12 : 25 am
by
Ilustrasi

JAKARTA – Tingkat kepercayaan masyarakat, terutama pelaku pasar, terhadap kinerja pemerintah mulai luntur seriring munculnya kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggap kontroversial.

Jokowi Effect yang selama ini menjadi bumper penguatan ekonomi, ternyata tidak memberi dampak secara signifikan.

Lihat saja,  nilai tukar rupiah yang terus melemah yang menyentuh level Rp 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS) atau terburuk sejak 1998.

“Kondisi saat ini membuat pengusaha pesimistis terhadap kinerja ekonomi pemerintah. Seharusnya jika fundamental  ekonomi baik maka pelemahan rupiah tidak akan terlalu dalam jika dibanding dengan negara-negara lain,” ujar anggota DPD RI, Ajiep Padindang  saat Diskusi Bincang senator 2015 “Gejolak dan Masa Depan Rupiah” di Brewerkz Restaurant & Bar, Jakarta, Minggu (29/3).

Menurutnya, anjloknya nilai tukar rupiah sudah mengganggu perekonomian Indonesia dan menghantam pelaku usaha kecil menengah (UKM).

Bahkan volatilitas kurs rupiah telah berlangsung lama membuat masyarakat menahan dolarnya  karena nilainya kini sangat menggiurkan.

“Pada dasarnya sudah sangat mengganggu apalagi kalau berlarut-larut karena akan memberi dampak. Seseorang yang pegang dolar AS banyak tidak mau dilepas,” paparnya.

Dia menilai pemerintah dan Bank Indonesia (BI) kurang peka terhadap pergerakan kurs yang sudah memberi sinyal pelemahan sejak akhir 2013.

Padahal DPD sudah mengingatkan Gubernur BI dan Menteri  Keuangan pada akhir Februari lalu tentang potensi pelemahan rupiah ini.

“Tapi respons mereka kurang peka. Bahkan pada rapat saat itu, pemerintah tidak punya kebijakan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah meski ada peluang rupiah bergerak Rp 14.000 per dolar AS,” ujarnya.

Hingga akhirnya pemerintah dan BI, kata Ajiep, tetap mematok nilai tukar rupiah Rp 12.500 per dolar AS dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015.

“Tapi justru Gubernur BI salah. Kami yang melakukan kajian budget office penyelenggaraan keuangan merasa prihatin dan khawatir dengan kondisi tersebut,” paparnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang menambahkan, terpuruknya nilai tukar rupiah telah mencekik UKM yang sebagian besar mengandalkan bahan baku dari impor.

“Buat pengusaha memang sudah mengganggu. Contohnya, pengusaha sarung terpaksa menurunkan separuh atau 50 persen dari produksinya karena 75 persen bahan bakunya dari impor,” jelasnya.

Ekonom PT Bank Sentral Asia Tbk (BCA), David Sumual menjelaskan, rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Beberapa mata uang negara lain juga mengalami pelemahan yang cukup.

Namun seharusnya pelemahan rupiah bisa tidak terlalu dalam jika fundamental ekonomi dalam negeri cukup baik.

“Defisit transaksi berjalan cukup besar,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Jhonlin Agro Raya Raih Kontrak Pertamina Patra Niaga Senilai Rp1,65 Triliun

JAKARTA-Perusahaan milik konglomerat asal Kalimantan Haji Isam, PT Jhonlin Agro

Triwulan I 2022: Harga Properti Residensial Tumbuh 1,29%

JAKARTA-Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) mengindikasikan