BI Rate Naik Demi Selamatkan Sektor Rill

Thursday 13 Jun 2013, 8 : 34 pm
by

JAKARTA-Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikan BIrate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps)  dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen merupakan cara bank sentral menyelamatkan sektor rill yang semakin tertekan  karena nilai tukar rupiah yang sudah menembus batas psikologis. Sebab, pelemahan rupiah ini semakin memberatkan sektor riil apalagi berbarengan dengan harga yang mulai naik.  “Nilai tukar kita sekarang ini menembus angka 10.000 rupiah. Jadi, langkah yang ditempuh bank sentral memang untuk menyelamatkan nilai tukar yang lemah,” ujar pengamat ekonomi Ec-Think Indonesia, Telisa Feliyanti di Jakarta, Kamis (13/6).

Rapat Dewan Gubernur (RDG)  BI memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps dengan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing-masing tetap sebesar 4,25 persen dan 6,75 persen.

Menurut dia, keputusan BI menaikan suku bunga acuan sangat berani. Hal ini memberi sinyal ke pasar uang  bahwa BI akan memperketat kebijakan moneternya enam bulan ke depan. “Ini situasi yang sulit.  Nilai tukar yang lemah dihawatirkan bisa menganggu sektor riil juga,” kata dia.

Dia memperkirakan, perbankan akan merespon kenaikan BI rate dengan menaikkan suku bunga kredit. Namun langkah tersebut tidak akan terlalu berdampak bagi masyarakat karena selama ini suku bunga kredit sudah dua digit.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Eugenia Mardanugraha mengatakan langkah BI menaikan suku bunga acuan sudah waktunya mengingat nilai tukar yang terus depresiasi. Sebab bank sentral tidak mau melakukan intervensi  pasar valas terlalu banyak dipasar uang. Intervensi yang berlebihan justru beresiko cadangan devisa menipis. “Saya kira, ini akan efektif meredam gejolak rtupiah. Memang benar BI rate naik dulu, baru BBM. Karena kalau BBM naik duluan, maka inflasi akibat BI rate lebih terasa. Kalau sekarang pemerintah bisa mengklaim kalau inflasi akibat BBM saja dan  bukan BI Rate,” jelas dia.

Dia mengaku, BI masih bisa melakukan intervensi dipasar uang meredam tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, cadangan devisa masih cukup kuat. “Tetapi BI tidak mau karena volume ekspor nya yang terus menurun. Itu tidak bisa dikendalikan oleh BI. Jadi terpaksa yg dinaikan adalah BI rate. Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin mengharapkan kenaikan ekspor sehingga agar cadangan devisa tidak turun, BI rate yang dinaikan,” pungkas dia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Revolusi Keuangan Negara Guna Selamatkan NKRI dari Jerat Utang Abadi ex BLBI

JAKARTA-Sekitar 1000 orang masa dari Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS)

Ganjar Minta 3 Hal ke Polisi, Tentara dan KPU, Apa Itu?

BANYUWANGI–Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo, menyatakan yakin terhadap netralitas