BI Mewaspadai Pertumbuhan Kredit Properti

Friday 14 Jun 2013, 4 : 51 pm
by

 

JAKARTA-Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikan BI Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 bps diperkirakan tidak akan menganggu pertumbuhan kredit perbankan. Bank sentral yakin, kredit perbankan masih tumbuh dikisaran 20 persen keatas. Namun demikian, BI tetap mewaspadai pertumbuhan kredit yang masih tinggi pada sektor-sektor tertentu khususnya sektor properti. “Pertumbuhan kredit properti bisa di atas 35 persen bahkan 40 persen. Jadi, ini yang kami waspadai. Kami akan tetap menjaga  stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga dengan moderasi fungsi intermediasi perbankan seiring dengan perlambatan kinerja perekonomian nasional,” kata Gubernur BI, Agus  Martowardoyo di Kompleks Perkantoran BI Jakarta, Jumat (14/6).

Kendati sektor properti tumbuh tinggi, Agus menilai  kinerja industri perbankan masih positif. Hal ini tercermin  pada tingkat rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) sebesar 18,6 persen. Angka ini jauh di atas ketentuan minimum 8 persen.

Positifnya pertumbuhan perbankan terlihat dari ingkat kredit bermasalah (NPL) perbankan juga masih terjaga di bawah 3 persen. “NPLgross pada April sebesar 1,96 persen,” jelas dia.

Sementara itu, pertumbuhan kredit hingga akhir April 2013 melambat menjadi 21,9 persen (yoy) sejalan dengan perlambatan ekonomi domestik. Kredit modal kerja dan kredit investasi masih tumbuh cukup tinggi sebesar 23,0 persen (yoy) dan 23,7 persen (yoy),.

Sedangkan kredit konsumsi tumbuh 18,8 persen (yoy).  Hal ini mengindikasikan, pertumbuhan kredit perbankan masih cukup konsisten dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. “Memang, kami sedang fokus mengamati kredit sektor properti,” jawab dia..

Dia berharap, kenaikan BI Rate bisa menjadi pesan bahwa kondisi perekonomian saat ini sudah berbeda dengan setahun lalu. “Satu tahun yang lalu iklim ekonomi kita berbeda dengan sekarang. Satu tahun lalu suasana di kita ikondisinya surplus, kondisi indikator-indikatornya cukup baik. Artinya tidak ada defisit yang besar, fiskal juga tidak dalam kondisi defisit yangg besar, tidak ada primary balance yang negatif,” papar Agus.

Langkah selanjutnya yang akan di tempuh BI, kata Agus,  menjaga ketersediaan valuta asing di pasar. “BI berkomitmen, kalau nanti perlu apa-apa, maka BI akan turun menyediakan valas. Tetapi, market juga harus bekerja secara sehat,” tegas Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Pangkal Pinang Bidik Satu Juta Wisatawan Tiongkok

JAKARTA-Pemerintah sedang giat-giatnya menggenjot industri pariwisata. Alasannya bisnis pariwisata paling

Dituding Punya Kepentingan, Hakim PN Surabaya Bantah Yusril Ihza Mahendra

SURABAYA-Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya membantah keras tudingan penasehat hukum