Biaya Siluman Masih Marak

Wednesday 18 Sep 2013, 2 : 13 pm
by

JAKARTA-Industri dasar di Indonesia dipastikan tidak kompetitif dan sulit berkembamg karena pengusaha terbebani dengan maraknya  biaya siluman atau invisible cost yang justru pada akhirnya menjadi faktor penghambat kegiatan bisnis maupun investasi. Tingginya biaya siluman ini  menyebabkan investor enggan berinvestasi di  Indonesia.  “Biaya itu, kebanyakan terdiri dari bermacam pungutan, baik resmi maupun tidak resmi alias biaya ‘siluman’.  Itu yang menjadi persoalan. Budaya memburu  rente ini menyebabkan persoalanya menjadi rumit,” jelas Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa, Setyo Budiantoro di Jakarta,  Rabu (18/9).

Menurut dia, praktek pungli dalam kegiatan bisnis di Indonesia sulit dihilangkan. Bahkan pengusaha harus mengeluarkan banyak biaya untuk mempercepat usaha. “Jika tidak maka pasti ijinnya dihambat,” urai dia.

Dia mengatakan, dalam rantai distribusi, pengusaha kebanyakan harus membayar biaya retribusi yang dikenakan pada masing-masing daerah yang dilalui. Ekonomi biaya tinggi merupakan biaya tidak terkontrol yang besarnya bisa mencapai 20-30 persen dari biaya ekonomi. “Praktek biaya siluman ini masih sulit hilang,” kata dia.

Selain biaya siluman, dia melihat, perbankan juga belum berpihak kepada pengembangan industri dasar. Ini terlihat dari suku bunga kredit yang dipatok sangat tinggi bahkan salah satu yang paling tinggi di dunia. “Net interest margin (NIM) kita lebih tinggi. Jadi perbankan kita ini kurang ideal,” jelas dia.

Kondisi ini menyebabkan industri dasar Indonesia susah kompetitif. Di  Malaysia kata dia sektor pertanian dipatok dengan suku bunga khusus. “Kalau disini ngak ada treatmentnya. Padahal yang namanya sektor prioritas itu membutuhkan treatment khusus. Tetapi nyatanya, tidak ada tindakan,” ujar dia.

Dia mengatakan, selama biaya siluman dan suku bunga masih tinggi maka industri dasar sukar bersaing. Apalagi, sebentar lagi, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diimplementasikan. “Kalau sektor keuangan kita tidak berusaha efisien dengan memangkas biaya operasional yang tinggi itu maka sektor keuangan kita akan dilindas oleh sektor keuangan asing,” kata dia.

Sampai saat ini kata dia, kontribusi sektor industri bagi perekonomian Indonesia masih kecil. Yang justru memiliki kontribusi terbesar kata dia sektor keuangan. Salah satu penyebab industri dasar kurang berkembang adalah tingginya ketergantungan terhadap bahan impor. “Transformasi ekonomi kita lebih banyak ke sektor perbankan. Padahal kalau terjadi transmisi dari sektor pertanian ke industri dan industri dasar yang terjadi sektor pertanian maka akan memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomia nasional,” kata dia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Siap Implementasi Industry 4.0, Pemerintah Bentuk Komite Industri Nasional

JAKARTA-Pemerintah segera membentuk Komite Industri Nasional dalam upaya kesiapan mengimplementasikan

Jumlah SPKLU Meningkat, PLN Klaim Berhasil Penuhi Kebutuhan Pengguna Kendaraan Listrik

JAKARTA-Kabar gembira bagi seluruh pemilik dan pengguna kendaraan listrik atau