Berdampak Sistemik, Tekanan Ekternal Sangat Berbahaya

JAKARTA-Kondisi ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap kondisi global yang bisa berdampak sistemik. Dampak sistemik ini akan terjadi  jika kondisi internal belum membaik. Salah satu pemicunya adalah tekanan  pada neraca perdagangan maupun transaksi berjalan Indonesia yang semakin melebar. “Waktu kita, menghitung angka pertumbuhan ekonomi, kita optimisme sampai 6,3-6,5 persen. Memang agak ignore masalah defisit, baik defisit perdagangan maupun defisit neraca pembayaran,” jelas Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri  Hartati di Jakarta, Selasa (19/3).

Namun, begitu potensi defisitnya begitu besar ini maka bisa menggerus pertumbuhan. Artinya, pertumbuhan ekonomi terganggu ketika defisitnya besar. “Ini otomatis potensi inflasinya juga cukup tinggi dan ketika potensi inflasinya tinggi juga menggerus konsumsi,” tutur dia.

Hal inilah yang berbahaya juga terhadap kerentanan pertumbuhan. Dari situ  Bank Dunia maupun IMF merevisi sampai 6,2 persen  laju pertumbuhannya. “Jadi yang sangat rentan sektor eksternalnya. Eksternal kita yang very-very danger, karena ini tidak hanya komoditas sekunder. Bahkan pangan kita defisitnya luar biasa,” tutur dia.

Padahal jelas dia pangan kontribusi terhadap inflasi sangat besar. Indikasinya, tekanan inflasi yang cukup besar pada Februari 2013. “Nah ini jadi perhatian yang serius dan bisa berdampak sistemik, nggak cuma keuangann saja nantinya, itu kalau tidak terhandle,” jelas dia.

Dia menjelaskan, defisit neraca perdagangan  Indonesia terburuk sepanjang sejarah. Dan kondisi ini akan berlanjut di tahun 2013. “Seumur-umur saja kita nggak pernah, disaat krisis saja neraca perdagangan kita saja nggak pernah defisit. Nah ini yang harus dicermati betul, apalagi selain migas, migas kan udah pasti penyumbang defisit yang besar, karena tergantungan kita terhadap bahan bakar minyak ( BBM) yang sangat tinggi,” imbuh dia.

Tetapi non migasnya juga defisit. “Ini kan neraca perdagangan kita untuk pangan, itu udah 60 persen impor, itu udah terjadi deficit,” tutur dia.

Hal ini menyebabkan kemirisan neraca perdagangan deficit. “Artinya, pertumbuhan yang dari investasi selama 2012 sangat besar dan selama ini juga melampaui target, tapi implikasinya adalah investasi-investasi yang di approve ini berbahan baku impor dan juga bahan yang sangat luar biasa besar, ini yang menyebabkan defisit neraca perdagangan,” jelas dia.

Untuk mencegah dampak sistemik ekonomi Indonesia, Enny berharap agar pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang tepat. Selama ini,  dia menilai, kebijakan pemerintah tidak pruden. Bahkan, ketika terjadi defisit neraca perdagangan, pemerintah langsung panic.”Tiba-tiba ada pembatasan dengan sistem kuota impor-impor holtikultura. Padahal, tidak semua persoalan bisa diselesaikan demikian,” kata dia.

Artinya kalau kebijakan pemerintah cuma reaksi dan tidak terkoordinasi dengan baik justru semakin memperburuk. Mestinya, pemerintah mulai membenahi sektor-sektor yang mengurangi ketergantungan impor. Salah satu sektornya adalah sektor pertanian. “Sektor pertanian kita punya potensi. Kalau industri kita masih panjang permasalahannya, masalah daya saing, teknologi dan segala  macam. Tapi, kalau pertanian potensinya itu ada di depan mata, kita kan negara agraris, sehingga memberikan kebijakan tepat yang saja, supaya minimal neraca perdagangan untuk pangan pertanian kita ini bagus, tapi tidak buang-buang devisa percuma untuk kertegantungan impor pangan,” pungkas dia