Blue Bird Tercatat di BEI dengan Kode “BIRD”

Ilustrasi

JAKARTA-PT Blue Bird Tbk (“Blue Bird”), perusahaan jasa transportasi terintegrasi dengan 15 anak perusahaan yang bergerak di bidang transportasi penumpang dan jasa pengangkutan darat, resmi tercatat sebagai emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode efek “BIRD” pada Rabu (5/11).

Blue Bird melepas 376.500.000 lembar saham atau sebesar 15 persen dari modal ditempatkan dan modal disetor penuh Perseroan setelah penawaran umum perdananya. Harga per lembar sahamnya adalah Rp 6.500.

Pencatatan ini dilakukan setelah Blue Bird mendapatkan surat pernyataan efektif untuk melakukan penawaran saham perdana/initial public offering (IPO) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 29 Oktober 2014.

Dengan harga penawaran saham di atas, total dana yang dihimpun BIRD mencapai Rp 2,447 triliun.

Baca :  Uni Charm Indonesia Targetkan Dana IPO Rp1,49 Triliun

“Dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru akan dialokasikan untuk memacu pertumbuhan portofolio BIRD,” ungkap Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Purnomo Prawiro, saat menghadiri acara pencatatan saham perdana di BEI di Jakarta, Rabu (5/11).

Sebelumnya, Blue Bird telah melakukan roadshow di tujuh kota yang merupakan pusat industri keuangan, yaitu Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, Hongkong, London, New York dan Boston dengan hasil yang memuaskan, di mana pada akhir masa book building saham Perseroan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) beberapa kali.

Prawiro menjelaskan kepercayaan dan kesejahteraan para pemangku kepentingan, termasuk di dalamnya investor, merupakan hal utama bagi keberlangsungan bisnis Perseroan. Karena itu, dia berharap IPO Blue Bird dapat menjadi awal yang baik dalam membangun hubungan Perseroan dengan para investor dan masyarakat luas.

Baca :  Kasus SIAP, Emiten Sekawan dan Tiga Broker Disuspend BEI

“Dana IPO yang terkumpul tidak hanya mampu merealisasikan rencana ekspansi Perseroan, tetapi juga dapat memperkuat pertumbuhan kinerja perusahaan  secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” imbuhnya.

Dari dana yang diperoleh dari IPO tersebut, sebanyak 53,04% akan digunakan untuk melunasi pinjaman, sedangkan 46,96% akan digunakan untuk membiayai belanja modal Perseroan dan entitas anak.

Dari aspek keuangan, Blue Bird mampu menunjukkan kinerja yang positif, tercermin dari pendapatan bersih Blue Bird yang meningkat menjadi Rp 3,921 miliar per 31 Desember 2013, dari Rp 2,564 miliar per tanggal 31 Desember 2011 dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 23,7%.

Melihat dari sisi industri, Euromonitor memperkirakan bahwa pasar layanan taksi di Indonesia diukur dari Nilai Konsumsi Konsumen akan tumbuh pada CAGR sebesar 16,4% menjadi Rp 12,9 triliun untuk periode proyeksi pada tahun 2016.

Baca :  Outstanding Dana Buyback Siap Masuk ke Pasar Capai Rp3,8 Triliun

“Dengan kinerja yang positif, prospek industri yang menjanjikan dan ditambah dengan dukungan dari berbagai pihak selama proses perseroan menjadi perusahaan terbuka, kami percaya Blue Bird akan terus mampu memberikan layanan yang terbaik khususnya terkait penyediaan sarana transportasi untuk masyarakat Indonesia,” ungkap Purnomo.

Adapun bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek Blue Bird adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Credit Suisse Securities Indonesia, dan PT UBS Securities.