BNI Syariah Raih Penghargaan Indonesia Best Bank Award

Pemimpin Divisi Kesekretariatan dan Komunikasi Perusahaan BNI Syariah, Bambang Sutrisno (bawah kanan) ketika menerima penghargaan sebagai bank berpredikat “sangat sehat” pada kategori syariah BUKU II dan III dari Warta Ekonomi dalam acara Indonesia Best Bank Award 2020 “Facing the Uncertainty & Transforming Business Sustainability”.

JAKARTA-BNI Syariah meraih penghargaan sebagai bank berpredikat “sangat sehat” pada kategori syariah BUKU II dan III dari Warta Ekonomi.

Penghargaan ini diberikan secara virtual dalam acara Indonesia Best Bank Award 2020 “Facing the Uncertainty & Transforming Business Sustainability”.

Penghargaan ini diberikan oleh CEO & Chief Editor wartaekonomi.co.id, Muhamad Ihsan kepada Pemimpin Divisi Kesekretariatan dan Komunikasi Perusahaan BNI Syariah, Bambang Sutrisno.

Acara ini turut dihadiri Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah dan Founder & Presiden Komisaris Warta Ekonomi, Fadel Muhammad.

Award ini ditujukan kepada perbankan yang mempunyai kinerja keuangan optimal dan sehat pada 2019 lalu.

Diharapkan bank yang mendapatkan kategori sangat sehat dan sehat ini tetap mempertahankan kinerjanya kedepan, sekalipun dihadapkan pada situasi krisis seperti pandemi COVID-19.

Bambang Sutrisno mengucapkan terima kasih kepada Warta Ekonomi atas apresiasi dan penghargaan yang diberikan.

Baca :  BNI Syariah Siap Layani Transaksi Pembayaran Produk Pertamina di Aceh

“Penghargaan ini diperoleh berkat kepercayaan dari segenap nasabah dan kerja keras seluruh pegawai. Semoga penghargaan ini terus memacu kami untuk meningkatkan kinerja dan memberikan yang terbaik kepada segenap stakeholders,” kata Bambang.

Di tengah kondisi perekonomian yang belum stabil akibat pandemi COVID-19, BNI Syariah terus tumbuh positif dan stabil.

Alhamdulillah dalam perjalanan sepuluh tahun BNI Syariah, BNI Syariah tercatat telah naik kelas ke BUKU III pada triwulan I tahun 2020.

BNI Syariah juga mencetak laba bersih Rp214,01 miliar pada triwulan I 2020, naik 58% dibandingkan periode sama 2019 sebesar Rp135,35 miliar dengan penyaluran pembiayaan sebesar Rp32,33 triliun dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp44,86 triliun.

Dengan pertumbuhan laba yang positif, rasio profitabilitas BNI Syariah pun meningkat ditandai dengan meningkatnya ROE (Return on Equity) secara signifikan dari 12,79% di triwulan I tahun 2019 menjadi 17,95% di triwulan I tahun 2020.

Baca :  BNI Syariah-Pertamina Teken Kerjasama Penerimaan Pembayaran

Sementara itu, rasio ROA (Return on Asset) juga naik dari 1,66% di triwulan I tahun 2019 menjadi 2,24% di triwulan I tahun 2020.

Dalam menjalankan bisnis, BNI Syariah didukung oleh kuatnya sinergi dengan BNI Group, berfokus pada segmen pembiayaan dengan risiko yang terkendali, melakukan efisiensi biaya operasional, dan berfokus pada Halal Ecosystem.

“Untuk memberikan kemudahan bagi nasabah, kami memiliki uang elektronik syariah pertama yang dimiliki perbankan yaitu Hasanahku,” kata Bambang.

Bagi nasabah yang ingin melakukan pembukaan rekening secara online, BNI Syariah memiliki Hasanah Online untuk mempercepat proses pembukaan rekening.

BNI Syariah juga memberikan kemudahan pengelolaan keuangan melalui Platform Sekolah Pintar (PSP) dengan fitur Kartu Jajan, Student Payment Platform, Portal Informasi Sekolah; serta platform yang mempermudah masyarakat dalam melakukan wakaf tunai, yaitu melalui aplikasi Wakaf Hasanah.

Baca :  Tingkatkan Penyaluran Pembiayaan Produktif, BNI Syariah Gelar Pelatihan UMKM

Pada Desember 2019 lalu, BNI Syariah telah memperoleh izin produk uang elektronik satu-satunya di perbankan syariah melalui produk HasanahKu.

Sebagai Hasanah Banking Partner, BNI Syariah berkomitmen untuk memberikan produk dan layanan yang terbaik dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Dalam penghargaan Warta Ekonomi Best Bank Award 2020, Warta Ekonomi menggunakan metode desk research dengan menggunakan laporan tahunan (annual report) yang dipublikasi masing-masing bank.

Data-data yang ada di dalam laporan tahunan tersebut kemudian diolah oleh tim peneliti Warta Ekonomi.

Indikator-indikator kemudian dikumpulkan dan diberi skor serta bobot. Secara umum, bobot masing-masing aspek ialah profil risiko sebesar 25%, GCG sebesar 20%, rentabilitas sebesar 30%, permodalan sebesar 15%, dan kinerja intermediasi sebesar 10%.