Budaya Betawi Ikut Rekatkan NKRI

JAKARTA-Gelar budaya menjadi satu bentuk konkret menjaga keutuhan NKRI, termasuk budaya betawi yang menjadi warna budaya nusantara. “Melestarikan budaya lokal itu sebagai bentuk universal untuk menyatukan bangsa ini,” kata Deputi Gubernur DKI Jakarta, bidang budaya Sylviana Murni di Gedung DPD/MPR RI Jakarta, Kamis (28/11/2013).

Menurut Sylviana, Gubernur Jokowi meminta agar gelar budaya itu dilakukan secara rutin melalui momen-momen berkelanjutan berbarengan dengan ulang tahun Jakarta, yang digelar setiap tanggal 22 Juni.

Dia bangga dengan Jakarta sekarang ini, karena banyak budaya Betawi yang dikembangkan. “Di Thamrin City misalnya, kini banyak dijual berbagai jenis pakaian Betawi, yang bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat Jakarta. Kantor-kantor di Jakarta, ke depan harus berarsitektur Betawi dan masjid-masjid bernuansa Betawi seperti Islamic Center, dan Masjid Raya di Daan Mogot Jakarta Barat,” tambahnya. 

Selain itu lanjut Sylviani, pemerintah DKI akan merenovasi bangunan sekolah-sekolah berkarakter Betawi yang positif, membangun kampung Betawi yang paripurna di Babakan sekitar selama dua tahun. “Dan, akan merevitalisasi makam-makam Pahlawan dari Jakarta, seperti Pangeran Jayakarta, Husni Thamrin, dan lain-lain,” tuturnya.

Menurut Wakil Ketua DPD RI Ratu Hemas, menggelar budaya ‘Keraton’ seduania itu tidak mudah, apalagi menjelang pemilu 2014, di mana Jakarta perlu perhatian keamanan secara khusus sebagai ibu kota negara. ‘Tapi, kalau memang akan dilaksanakan, maka harus bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat agar sukses.” tambahnya. 

Ratu Hemas menjelaskan, budaya Betawi dan juga budaya daerah yang lain harus mengokohkan budaya nasional. “Apalagi ada di Ibu Kota negara, maka budaya Betawi menghadapi tantangan besar untuk melestarikan dan mengembangkannya di tengah globalisasi ini. Karena itu perlu dukungan semua pihak untuk mengaktualisasikan budaya yang bersumber dari kearifan lokal ini,” ujarnya. 

Menurut Ratu Hemas, budaya Betawi itu bukan hanya tari-tarian, melainkan keramah-tamahan, gotong-royong, urun-rembug, dan bukan tawuran maupun premanisme. **cea

Baca :  Mensos Usahakan Taman Bermain Anak Didalam Lapas