Bursa Regional Pengaruhi Penurunan Rupiah

Tuesday 11 Jun 2013, 8 : 46 pm

JAKARTA-Kementerian Keuangan menegaskan nilai rupiah yang melemah akhir-akhir ini, justru diakibatkan karena penurunan bursa regional.  “Sebab, mayoritas bursa utama di kawasan regional juga turun, meski tipis,” kata Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, Selasa (11/6)

Mantan Kepala BKPM ini menambahkan dari sisi global, reaksi pelaku pasar masih mencermati rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, yang ingin mengurangi quantitative easing. “Melemahnya mata uang dalam negeri juga disebabkan mata uang di Singapura dan Thailand. Karena itu tak terlalu menghawatirkan kondisi tersebut,” tambahnya.

Menurut Chatib, para investor saat ini ikut khawatir akibat melemahnya Rupiah. Karena, arus dana asing yang masuk negara menjadi berkembang (emerging market). “Itulah sebabnya pasar saham di regional jatuh,” ucapnya.

Lebih jauh kata Chatib, fenomena rupiah ini bukan disebabkan oleh ketidakpastian pemerintah untuk merealisasikan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. “Kalau dilihat indeks (IHSG) hari ini, hampir di semua bagian regional, mulai dari Hang Seng, Nikkei, STI Singapore bahkan Thailand minusnya cukup dalam. Ini tentunya berpengaruh pada stock market kita,” tuturnya

Kondisi ini, jelas Chatib, pada akhirnya berpengaruh pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Fenomena regional yang terjadi saat ini, lanjut dia, tidak terlepas dari adanya pengaruh global, seperti rencana The Fed yang akan menghentikan kebijakan quantitative easing (QE). “Rencana ini membuat investor agak khawatir bahwa arus modal ke emaging markets akan melemah. Itu sebabnya stock market di regional jatuh, baik itu Jakarta Composite Index maupun yang tadi saya sebut semua,” terangnya

Dia menegaskan, penurunan IHSG dan pelemahan rupiah yang terjadi hari ini bukan disebabkan oleh rencana kenaikan harga BBM yang berlarut-larut. “Yang dikhawatirkan investor mengenai BBM, saya kira keliru. Pemerintah sekarang sedang dalam tahap sosialisasi dan perlindungan sosial. Jadi, posisi BBM sudah jelas. Pemerintah akan menaikkan BBM,” tegasnya.

Lebih lanjut Chatib mengungkapkan, jika bercermin dari data empiris di 2005 dan 2008, kenaikan harga BBM akan menurunkan nilai impor minyak dan gas bumi. “Jadi, kami bisa perkirakan rupiah akan menguat, karena neraca perdagangan kita akan membaik,” harapnya.

Bahkan, kata Chatib, sejauh ini Kementerian Keuangan sudah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia untuk menempuh langkah-langkah yang tepat dalam upayanya menjaga stabilitas rupiah. “Langkah-langkah yang kami ambil adalah langkah koordinasi, sudah dilakukan. Fenomena ini lebih ke fenomena temporer,” ucap Chatib.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Dukung Bisnis Diaspora Hong Kong, BNI Biayai Kampung Kita

HONG KONG-PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali memperkuat

PUPR Targetkan Enam Tol JORR 2 Selesai Desember 2019

JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan