CBA: Fee Sewa Kantor OJK Masuk Kantong Pejabat Siapa?

ilustrasi

JAKARTA-Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan terkait dugaan fee sewa Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Diperkirakan, nilai fee dalam transaksi sewa gedung mewah OJK ini mencapai miliaran rupiah.

“Ayo masuk kantong pejabat siapa fee tersebut. Memang, itu bukan urusan rakyat, tapi lebih baik kita meminta aparat hukum untuk melakukan penyelidikan fee-fee itu,” ujar Uchok di Jakarta, Minggu (28/6).

Menurutnya, indikasi adanya praktek rent seeker (pemburu rente) mencuat saat OJK berencana membeli gedung Wisma Mulia 1 dan Wisma Mulia 2.

Pemilik gedung Wisma Mulia 1 melalui PT. Sanggarcipta Kreasitama menyampai penawaran harga gedung Wisma Mulia 1 sebesar USD 428 Juta atau setara Rp 5.6 Triliun.

Baca :  IHSG Anjlok, 18 Dapen BUMN Diajak Masuk Pasar Saham

Tapi ternyata alokasi anggaran untuk opsi pembelian ini terlalu tinggi sehingga tidak mampu memenuhi anggaran untuk kepemilikan gedung kantor Wisma Mulia 1 tersebut.

“Dengan demikian, untuk membeli gedung kantor Wisma Mulia hanya menjadi “ngiguan” para pejabat OJK saja,” imbuhnya.

Dan ada akhirnya, terpaksa juga OJK harus menyewa buat Kantor Pusat dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp 489.2 Miliar.

Dengan rincian untuk menyewa gedung Wisma Mulia 1 sebesar Rp412.3 Miliar dan untuk sewa gedung Wisma Mulia 2 sebesar Rp76.9 Miliar.

Namun ternyata anggaran sebesar Rp 489.2 Miliar masih belum cukup.

OJK masih harus mengeluarkan anggaran lagi untuk pekerjaan jasa kontruksi dalam rangka penyedia ruang kerja dan rakondisi ruang kerja sebesar Rp 19.7 Miliar.

Baca :  OJK Rilis Aturan Konsolidasi Bank Umum

Atau untuk angka yang lebih riil, OJK membutuhkan anggaran sebesar Rp 34.6 miliar untuk penataan untuk keseluruhan gedung Wisma Mulia 1 dan Wisma Mulia 2.

Selain itu, yang menjadi pertanyaan berapa anggaran fee yang keluar jika realisasi sewa gedung sebesar Rp 489.2 Miliar tersebut.

Bila mendengar dan membaca dari agen properti yang fokus pada jual beli atau sewa menyewa akan jatuh fee berkisar antara 1-3 persen.

“Asyik bukan, bila mendapat fee berkisar 1 – 3 dari realisasi anggaran sebesar Rp 489.2 Miliar,” jelasnya.