Daya Saing IKM Ditingkatkan Agar Siap Hadapi MEA 2015

Tuesday 3 Dec 2013, 8 : 21 pm
by

JAKARTA-Industri kecil dan menengah (IKM) merupakan salah satu kekuatan besar dan terdepan dalam pembangunan ekonomi nasional, karena sektor IKM sangat penting untuk menciptakan pertumbuhan dan lapangan pekerjaan. Selain itu, IKM cukup fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi terhadap pasang surutnya permintaan pasar.  Untuk itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan IKM dan penciptaan wisausahawan baru untuk meningkatkan daya saing dan mengantisipasi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 2015. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun pada pembukaan Jakarta IKM Expo V Tahun 2013 di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (3/12).

Pameran yang berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 3 – 6 Desember 2013, diikuti sebanyak 74 perajin IKM yang berasal dari anggota KADIN, Mahasiswa ITB Fakultas Seni Rupa dan para perwakilan daerah Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Batam, serta Kalimantan Timur. Jakarta IKM Expo V Tahun 2013 terselenggara atas kerjasama Kementerian Perindustrian dengan KADIN DKI Jakarta serta Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta, yang bertujuan mempromosikan produk-produk terbaik dari para perajin unggulan dalam rangka memperluas pasar IKM.

Menurutnya, dengan jumlah unit usaha IKM sebanyak 3,9 juta unit dapat menyerap tenaga kerja mencapai 9,14 juta orang, dimana sekitar 75% di antaranya berkembang di Pulau Jawa dan 25% sisanya ada di luar Pulau Jawa. Diharapkan, porsi IKM di luar Pulau Jawa akan naik menjadi 40% pada tahun 2014.

Dia mengatakan, Indonesia sebagai negara besar dengan penduduk terbanyak di ASEAN merupakan pasar potensial untuk aliran masuk barang, jasa, dan tenaga kerja bagi negara lainnya di ASEAN. Hal tersebut perlu disadari, terutama Indonesia sebagai pasar konsumen terbesar di ASEAN sangat berpotensi untuk dibanjiri barang-barang konsumsi. Membanjirnya barang-barang tersebut memang memiliki nilai positif bagi konsumen akibat semakin banyaknya alternatif pilihan.  Namun demikian, nilai tambah akan lebih dirasakan, jika produk-produk Indonesia yang justru dapat “menginvasi” negara-negara di ASEAN. Apabila hal tersebut terjadi, produksi domestik akan bertambah, yang berimplikasi positif terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan investasi dan berdampak akhir terhadap pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan penduduk.

Oleh karena itu, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal sangat diperlukan. “SDM ini harus dipersiapkan sebagai insan yang berdaya saing regional bahkan global. Implementasi ASEAN – China Free Trade Area (ACFTA) 2010 dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, dimana ketika penerapan ACFTA banyak pihak yang belum siap akibat lemahnya koordinasi dan upaya perencanaan sebelum diberlakukannya ACFTA. Dengan implemetasi MEA yang semakin dekat, sudah saatnya kita berbenah dan mengambil tindakan sedini mungkin untuk menghadapi persaingan yang akan semakin sengit,” tegas Wamenperin.

Kerjasama dan prioritas kepentingan nasional harus dikedepankan oleh berbagai pihak untuk mendukung terciptanya Indonesia menjadi negara yang mendapatkan keuntungan terbesar dengan diterapkannya MEA 2015.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Sophia Wattimena

OJK: Risiko Korupsi Jadi Tantangan Penegakan Integritas

JAKARTA –  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama seluruh pemangku kepentingan

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia Pesta Pora Pejabat dan Penegak Hukum Korup

JAKARTA-Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Salestinus menilai peringatan