Disparitas Harga Picu Penyelundupan BBM

JAKARTA-Direktorat Jenderal Bea Cukai berhasil menegah kapal tanker yang membawa minyak selundupan sebesar 60 ribu ton di perairan Batam, Kepulauan Riau. Salah satu pemicu aksi penyelundupan ini karena disparitas harga-nya yang tinggi.

Menurut Menteri Keuangan M. Chatib Basri, BBM bersubsidi memang sangat rentan untuk diselundupkan karena perbedan harga yang tinggi. “Jika ditanya barang apa yang produknya banyak diselundupkan, kita lihat yang perbedaan harganya signifikan dengan domestik,” jelasnya di Gedung Djuanda 1, Kementerian Keuangan, seperti dikutip dari laman kemenkeu.go.id Jakarta pada Jumat (6/6).

Ia memberi contoh seperti di Timor Leste dimana ada perbedaan harga jual BBM bersubsidi yang tinggi di Indonesia. Selain itu ada pula pelarangan pembelian BBM bersubsidi. “Misalnya seperti yang terjadi di Atapupu, kalau orang Timor Leste beli BBM subsidi di Indonesia dilarang, jadi ada saja oknum yang menyelundupkan,” katanya.

Baca :  Resesi Ekonomi Mengancam Dunia

Oleh karena itu, menurutnya, barang yang dilarang akan lebih besar kemungkinannya untuk diselundupkan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono menjelaskan mengenai cara penyelundupan yang digunakan oleh penyelundup BBM sebanyak 60 ribu ton beberapa waktu lalu. Menurutnya kapal ini memang telah lama diintai oleh petugas-petugas bea cukai. “Yang kemarin beberapa kali diindikasikan. Kapal ini, memang kerjaannya hilir mudik ke Balikpapan, ke Surabaya,” katanya dalam konferensi pers di Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta pada Jumat (6/6).

Namun, penangkapan tidak dapat serta merta dilakukan karena Bea Cukai tidak dapat menangkap kapal tersebut jika sedang melakukan pelayaran dalam negeri. “Kapal ini kalau dari Dumai ke Surabaya, Bea Cukai nggak bisa tangkap, karena dalam negeri kan, jadi kita harus nangkapnya kalau dia belok ke perbatasan luar,” jelasnya.

Baca :  Kemendes: Bantuan 5 Unit Tank Air Dikelola BUMDes

Seringkali kapal ini mengakali para petugas yang hendak memulai pengejaran. “Akalnya pintar, jadi mesinnya dimatikan, bagian belakang kapal digeser jadi seolah-olah terbawa arus,” katanya.

Menurutnya, dalam kasus yang baru-baru ini terjadi caranya adalah dengan terus mengintai kapal tersebut hingga keluar dari perbatasan. “Jadi diikuti terus sampai dia keluar border, di koordinat berapa dia nggak bisa bergerak. Jadi kemarin ditunggu, diintai sampai dia cross-border,” pungkasnya.