Divisi Jasa Keuangan Astra Raih Laba Bersih Rp 2,5 Triliun

Ilustrasi

JAKARTA-Divisi Jasa Keuangan PT Astra International Tbk mencatat laba bersih sebesar Rp 2,5 trilun atau mengalami kenaikan 15%.

Apabila tidak memperhitungkan keuntungan dari akuisisi 50% saham Astra Aviva Life, maka laba bersih Divisi Jasa Keuangan turun sebesar 5% menjadi Rp 2 triliun.

Pertumbuhan yang kuat, terutama dari Federal International Finance, tertekan oleh penurunan kontribusi dari Asuransi Astra Buana.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (25/7) mengatakan total pembiayaan melalui bisnis pembiayaan otomotif Astra meningkat 11% menjadi Rp 30,9 triliun, termasuk pembiayaan melalui joint bank financing without recourse.

Sementara itu total kredit yang diberikan melalui pembiayaan alat berat mengalami penurunan 23% menjadi Rp 2 triliun akibat penurunan penjualan alat berat. PT Bank Permata Tbk yang 44,6% sahamnya dimiliki Perseroan, membukukan laba bersih sebesar Rp 800 miliar, mengalami penurunan sebesar 2%.

Baca :  Laba Bersih Astra Semester I- 2014 Capai Rp 9,8 Triliun

PT Asuransi Astra Buana (AAB), anak perusahaan yang bergerak di bidang asuransi mencatat penurunan laba bersih. Pertumbuhan yang kuat pada pendapatan premi kotor tertekan oleh penurunan kontribusi dari pendapatan investasi akibat adanya keuntungan pada kuartal pertama 2013 yang berasal dari penjualan kepemilikan reksadana.

Selama kuartal kedua, Perseroan telah menyelesaikan penjualan 25% saham di Astra Sedaya Finance kepada Bank Permata senilai Rp 2,2 triliun, dan menghasilkan laba Rp 1 triliun yang dibukukan langsung ke ekuitas.

Sementara itu, laba bersih Divisi Alat Berat dan Pertambangan naik 41% menjadi Rp 2 triliun PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 11% dan peningkatan laba bersih sebesar 42% menjadi Rp 3,3 triliun.

Baca :  Semester I-2020, ASII Bukukan Laba Bersih Sebesar Rp11,4 Triliun

“Pada segmen usaha mesin konstruksi, pendapatan bersih turun 1%, mencerminkan penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 10% menjadi 2.207 unit, namun penurunan pendapatan tersebut cukup tertahan oleh kenaikan pendapatan pada suku cadang dan jasa purna jual,” jelasnya.

PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, diuntungkan oleh meningkatnya volume produksi batu bara pada stripping ratio yang lebih rendah. PAMA mencatat peningkatan pendapatan bersih sebesar 12% dikarenakan kontrak produksi batu bara meningkat 20% menjadi 60 juta ton, sementara kontrak pengerjaan pemindahan tanah (overburden removal) turun 3% menjadi 401 juta bcm.

Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 46% dengan kenaikan penjualan batu bara sebesar 51% menjadi 3,4 juta ton, walaupun terjadi penurunan harga rata-rata penjualan batu bara sebesar 7%. Kenaikan biaya bahan bakar juga menurunkan margin laba kotor. United Tractors dan anak usahanya memiliki sembilan tambang batubara dengan total cadangan pada akhir tahun 2013 diperkirakan mencapai 409 juta ton.

Baca :  Semester I-2020, ASII Bukukan Laba Bersih Sebesar Rp11,4 Triliun