Ekonom: Pekan Depan Bunga Acuan BI Turun 0,25%

ilustrasi

JAKARTA-Ekonom PT Indo Premier Sekuritas (IndoPremier), Luthfi Ridho meyakini Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang akan berlangsung pada 15-16 Juli 2020 akan menghasilkan salah satu keputusan terkait penurunan BI 7day Reverse Repo Rate sebesar 0,25 basis poin menjadi 4 persen.

Bahkan, hingga akhir tahun ini tingkat suku bunga acuan BI akan berada di level 3,5 persen, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di 2020 di level Rp14.800.

Proyeksi tersebut disampaikan Luthfi dalam acara yang digelar IndoPremier dan PT Indo Premier Investment Management (IPIM) bertajuk “Kupas Tuntas ETF Volume 4: Macro Outlook 2nd Semester 2020” yang berlangsung secara virtual, Jakarta, Kamis (9/7).

Baca :  Kontraksi Ekonomi Global Berlanjut, BI7DRR Turun Menjadi 4%

“BI Rate (BI 7day Reverse Repo Rate) yang diumumkan pada pekan depan akan ada cut sebesar 25 basis poin,” ujar Luthfi.

Dia mengungkapkan, kebijakan penurunan suku bunga acuan mesti dilakukan oleh bank sentral di tengah tren perlambatan aktivitas perekonomian yang akan menekan tingkat pertumbuhan ekonomi.

“Seperti yang dilakukan oleh bank sentral India (RBI) yang tingkat suku bunganya mengalami penurunan terus, sejalan dengan upaya menumbuhkan ekonomi,” imbuhnya.

Luthfi memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 masih akan mencatat hasil positif di level 0,45 persen (baseline), sedangkan di Kuartal II-2020 diperkirakan minus 2,44 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi pada tahun ini diproyeksikan 1,8 persen dengan tingkat downside risk sebesar 0,5 persen, tetapi tingkat konsumsi meningkat pada pembelian barang dan jasa secara online.

Baca :  Cadev Indonesia Akhir Januari 2014 Mencapai US$100,7 Miliar

“Tingkat inflasi di 2020 yang akan berakhir sebesar 1,8 persen tersebut dengan catatan bahwa pemerintah tidak mengubah harga BBM (bahan bakar minyak) di tahun ini. Kalau pada September atau Agustus harga BBM mengalami penurunan Rp2.000 per liter, maka akan memberikan impact 0,8 persen terhadap inflasi. Jadi, inflasi di tahun ini akan sebesar 1 persen,” papar Luthfi.

Namun secara umum, kata Luthfi, perekonomian domestik di Kuartal II-2020 masih terindikasi cukup kuat untuk melaju positif hingga akhir tahun. Hal ini tercermin dari data penjualan kendaraan roda empat dan semen.

“Tetapi, tentunya jika dibanding dengan tahun lalu penjualannya masih lebih rendah, bahkan untuk semua sektor,” ucapnya.

Baca :  Cadev Akhir Februari 2017 Naik Menjadi US$119,9 Miliar

Lebih lanjut dia mengungkapkan, jika mengacu pada proyeksi data makro tersebut, maka nilai tukar rupiah hingga akhir tahun ini diperkirakan berada di level Rp14.800 per dolar AS.

“Rupiah masih stabil di 14.800 dan masih inline dengan peer countries, apalagi cadev (cadangan devisa) kita sudah berbalik naik kembali (Per 30 Juni 2020 sebesar USD131,72 miliar),” ujar Luthfi.