Emiten Diminta Praktikkan Manajemen Risiko dan Kepatuhan di Masa Pandemi

ILustrasi

JAKARTA-Pemerintah meminta emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun perusahaan non-listed bisa konsisten menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), mempertimbangkan perkembangan risiko dan berintegritas, sehingga kinerja perusahaan mampu bertumbuh secara berkelanjutan di masa pandemi Covid-19.

Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Dwi Wahyu Atmaji melalui kanal YouTube TopBusiness dalam acara bertajuk “Integrated GRC for Business Sustainability in New Normal”, Jakarta, Jumat (16/10).

Wahyu mengatakan, implementasi governance, risk management and compliance (GRC) secara baik dan efektif diyakini mampu mendorong kinerja perusahaan untuk bertumbuh secara berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi akibat kondisi pandemi Covid-19.

“Praktik GRC sekaligus mendukung program pemulihan ekonomi nasional dan program kesehatan masyarakat di masa pandemi,” ujarnya.

Baca :  PMI Manufaktur Indonesia Tembus Level Ekspansif

Wahyu menyinggung soal pengesahan UU Cipta Kerja yang diyakini bisa menarik investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia, sehingga lapangan kerja semakin terbuka.

“Ini merupakan salah satu solusi nyata untuk mengatasi PHK (pemutusan hubungan kerja selama masa pandemi,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut dia, UU Cipta Kerja diarahkan untuk memperluas peluang kerja bagi angkatan kerja baru.

“Dampak pandemi Covid-19 ini sungguh luar biasa. Menyentuh dan mempengaruhi semua sendi-sendi kehidupan kita semua. Oleh karenanya, kita harus malakukan sinergi seluruh sumber daya yang kita miliki,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, TopBusiness juga memberikan penghargaan TOP GRC Awards 2020 kepada sejumlah emiten saham dan obligasi yang dinilai telah mempraktikkan manajemen GRC secara baik yang sejalan dengan upaya menumbuhkan kinerja berkelanjutan. Penjurian dilakukan dengan melibatkan 840 perusahaan.

Baca :  OJK: 68 Emiten di Pipeline Penawaran Umum Dengan Nilai Rp40,54 Triliun

Perusahaam tersebut antara lain, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT BPD Jawa Barat dan Banten (BJBR), PT Jasa Armada Indonesia (IPCM), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), PT Jasa Raharja (Persero) dan PT Waskita Karya Realty.

Melalui pemberian penghargaan tersebut diharapkan semakin banyak perusahaan yang menerapkan Principled Performance (Kinerja Berprinsip) dalam pelaksanaan GRC di internal perseroan, yakni melaksanakan tata kelola yang baik, mempertimbangkan risiko yang berkembang, serta menjalankannya secara berintegritas.

Ada sejumlah temuan menarik saat penilaian praktik GRC pada perusahaan yang menjasi responden penjurian, yakni sistem dan infrastruktur GRC sudah semakin lengkap, meski pelaksanaanya belum terpadu (integrated GRC). Selanjutnya, perusahaan belum menjadikan GRC sebagai budaya kerja dan banyak perusahaan tidak menyangka pandemi Covid-19 bakal berisiko panjang, sehingga belum memasukkan aspek ini ke dalam profil risiko.

Baca :  Harga Sembako Terkendali Meski Ada Wabah Covid-19

Selain itu, ada pula temuan terkait rendahnya jumlah perusahaan yang telah mengembangkan teknologi digital sebagai instrumen untuk meng-update profil risiko, terdapat potensi permasalahan sistem kontrol dan pertanggungjawaban pengelolaan anak perusahaan dengan perusahaan induk, serta belum banyak perusahaan yang mengukur efektivitas dan dampak dari penerapan GRC