Hatta:Impor Barang Modal Selesai

JAKARTA-Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa mengungkapkan, kegiatan impor barang modal sudah masuk pada fase menuju nol persen. Hal ini ditandai dengan penurunan nilai impor Agustus yang mengalami penurunan mencapai 15,21 persen. “Kemungkinan impor barang modal kita sudah mulai selesai. Sehingga, sekarang fase produksi dan produktivitasnya yang akan meningkat,” kata Hatta di Gedung DPR Jakarta, Senin (1/10).
Menurut Hatta, jika negara sudah menuntaskan kegiatan impor barang modal, maka selanjutnya akan dikuti oleh peningkatan produksi yang berujung pada peningkatan volume ekspor. “Dengan dua mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat, yaitu investasi dan tambahan selisih ekspor dan impor, maka saya yakin target pertumbuhan akan tercapai,” paparnya.

Hatta menjelaskan, impor Agustus 2012 yang mengalami penurunan signifikan perlu mendapatkan pengawalan agar tetap terjaga pada kondisi surplus. “Kami akan mengendalikan agar impor tetap terjaga, terutama untuk hal-hal yang bersifat konsumtif,” ujarnya.

Dalam upaya menjaga impor, kata Hatta, pemerintah akan berupaya mendorong investasi yang tidak membutuhkan banyak komponen berbahan baku impor. “Surplus ini baik, walaupun angka ekspor kita menurun. Tetapi, biasanya penurunan ekspor dengan peningkatan impor itu lebih tinggi impor,” kata Hatta.

Saat ini, lanjut dia, impor tengah berada pada kondisi drop dan mengubah kinerja perdagangan menjadi surplus. “Surplus ini harus kita jaga, tetapi tidak sekadar terjadinya penurunan. Kami juga akan lebih mendorong peningkatan ekspor,” terangnya.

Sebelumnya, Senin (1/10), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin mengatakan, impor Agustus 2012 mencapai USD13,87 miliar atau mengalami penurunan 15,21 persen dibanding impor Juli 2012. Dia menjelaskan, neraca perdagangan Agustus 2012 ini mengalami surplus. “Pada Agustus 2012, nilai eskpor mencapai USD14,12 miliar,” katanya.

Lebih lanjut Suryamin mengungkapkan, surplus neraca perdagangan Agustus 2012 mencapai USD248,5 juta. “Ini angin penyejuk atau angin segar. Selama tiga bulan ini (neraca perdagangan) mengalami defisit, tetapi terus menurun tingkat defisitnya dan sekarang surplus,” kata Suryamin.