Hendardi: Visi Politik Anies Baswedan Adalah Rasisme

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan

JAKARTA-Pidato politik perdana Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta langsung menuai kecaman. Gelombang sindiran dialamatkan kepada Anies menyusul istilah pribumi yang diucapkannya saat berpidato.

Padahal dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 26 Tahun 1998 dengan tegas melarang menggunakan istilah Pribumi dan Non Pribumi untuk menyebut warga negara.

“Pada mulanya banyak pihak yang beranggapan bahwa politisasi identitas agama, ras, golongan adalah sebatas strategi destruktif pasangan Anies Sandi untuk memenangi kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Artinya politisasi identitas itu hanya untuk menundukkan lawan politik dan menghimpun dukungan politik lebih luas, hingga memenangi Pilkada,” ujar Ketua Setara Institute, Hendardi di Jakarta, Selasa (17/10).

Akan tetapi jelas Hendardi, menyimak pidato pertama Anies setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, publik menjadi mafhum bahwa visi politik Anies adalah rasisme.

Baca :  Fahri : MSI Diduga Mau Perlebar Masalah

Politisasi identitas bukan hanya untuk menggapai kursi Gubernur tetapi hendak dijadikan landasan memimpin dan membangun Jakarta. Pidato yang penuh paradoks: satu sisi mengutip pernyataan Bung Karno tentang negara semua untuk semua, tapi di sisi lain menggelorakan supremasi etnisitas dengan berkali-kali menegaskan pribumi dan non pribumi sebagai diksi untuk membedakan sang pemenang dengan yang lainnya.

“Pernyataan Anies bukan hanya keluar dari nalar etis seorang pemimpin provinsi melting pot yang plural, tetapi juga membangun segregasi baru atas dasar ras,” terangnya.

Menurutnya, kebencian atas ras adalah mula dari suatu praktik genocida seperti di Myanmar. Genocida tidak hanya dalam bentuk fisik tetapi juga dalam bentuk penegasian ras dan etnis lain dalam membangun Jakarta.

Baca :  Berita Hoax Selang Cuci Darah, Harimau Jokowi Gugat Prabowo Subianto

Karena itu, Anies bisa dikualifikasi melanggar semangat etis UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

“Anies, yang seharusnya di hari pertama kerja melakukan emotional healing atas keterbelahan warga Jakarta akibat politisasi identitas, tetapi justru mempertegas barikade sosial atas dasar ras dan etnis. Sosok pemimpin seperti ini tidak kompatibel dengan demokrasi dan Pancasila, karena mengutamakan supremasi golongan dirinya dan mengoyak kemajemukan warga,” pungkasnya.