Hentikan Impor Garam dan Perbaiki Pasar Garam

JAKARTA-Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri dan Teknologi (Ekuintek) Sohibul Iman meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memastikan penghentian impor garam dan mengutamakan garam petani lokal. “Harus ada tindakan tegas, garam impor untuk konsumsi tidak boleh lagi masuk ke pasar. Ini akan menghancurkan harga garam lokal, dan merugikan petani garam yang produksinya sedang meningkat sangat baik. Pemerintah perlu terus mendorong agar swasembada garam bisa tercapai. Kita minta kedepan garam untuk industri juga bisa dipasok dari petani lokal”, paparnya.

Sebagaimana diketahui Kementerian Perdagangan telah menghentikan impor garam konsumsi sejak Juni lalu. Penghentian impor berdasarkan keputusan rapat koordinasi tim swasembada garam nasional. Tahun ini, alokasi impor garam konsumsi nasional mencapai 533 ribu ton yang terbagi dalam dua tahap. Pertama, 300 ribu ton pada Maret-April 2012, serta tahap kedua sebanyak 233 ribu ton periode Mei-Juni.

“Sejak Juli, seharusnya tidak boleh lagi ada impor garam untuk konsumsi. Kita juga menyesalkan masih berlimpahnya pasokan dan persedian garam digudang-gudang terutama akibat kebijakan importasi garam sebelumnya”, tambahnya

Baca :  Centurygate Hanya Bisa Diselesaikan Lewat MK

Harga garam saat ini telah turun drastis menjadi Rp 250-350 per kg, dibanding bulan lalu yang masih Rp 450 per kg. Angka harga jual tersebut cukup jauh dibandingkan dengan harga yang dipatok pemerintah, yaitu Rp 750 per kg untuk garam kualitas I dan Rp 500 untuk garam kualitas II.

“Impor garam selayaknya tidak dijalankan lagi. Tahun 2012 ini, musim kemarau diperkirakan lebih panjang dan diperkirakan produk garam rakyat melimpah dan diperkirakan akan terjadi swasembada garam untuk konsumsi. Kedepan harus ada upaya serius untuk menjadikan swasembada garam bisa berkelanjutan, bukan hanya garam untuk konsumsi tetapi juga garam untuk produksi”, tambahnya.

Berdasarkan data BPS selama Januari-Juni 2012 impor garam Indonesia mencapai 1,3 juta ton sementara periode yang sama tahun lalu mencapai 1,8 juta ton dengan nilai US$ 95,42 juta. Menurut Kementerian Perdagangan, tahun 2012 kebutuhan garam untuk kosumsi diperkirakan sebesar 1,4 juta ton sedangkan garam Industri 1,8 juta ton. Realisasi impor garam konsumsi (non industri) Januari-Juni 2012 mencapai 495.073 ton dari kuota impor yang diizinkan mencapai 533.000 ton. Sedangkan kebutuhan garam Industri selama ini seluruhnya dipenuhi dari impor.

Baca :  Penyusunan ABT dan APBN P Rawan Penyimpangan

Disisi lain produksi garam nasional tahun ini bisa mencapai 1,4 juta ton karena kondisi cuaca normal. Dari total tersebut sekitar 400 ribu ton merupakan hasil produksi PT Garam, dan selebihnya 1 juta ton dari produksi garam rakyat.

“Harusnya untuk garam konsumsi tidak perlu impor lagi. Kedepan, kita perlu memberikan insentif yang lebih kuat agar petani dan industri garam lokal bisa meningkatkan produksi lebih besar lagi. Bahkan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri yang mencapai 1,8 juta ton yang masih di impor. Sebagai Negara kepulauan terbesar didunia, harusnya kita mampu”, tambahnya.

Sohibul Iman, menyampaikan 4 langkah yang perlu ditempuh agar produksi garam nasional lebih optimal. Pertama, meningkatkan lahan dan infrastruktur yang lebih prima. Saat ini banyak lahan yang belum bisa tergarap secara intensif karena kondisi infrastruktur yang tidak memadai. Banyak muara laut yang tidak bisa optimal mengalirkan volume air laut kelahan garam, karena tingkat sidementasinya sudah sangat tinggi. Harus ada pengerukan dan perbaikan muara. Kedua, perbaikan infrastruktur jalan ke lahan. Sebagian besar akses ke lahan garam rakyat ini merupakan jalan sekunder yang kondisi fisiknya sudah rusak berat.

Baca :  Industri Perbankan Diminta Dorong Kegiatan Ekspor

Ketiga, menjaga tingkat harga garam saat panen. Tingkat harga saat panen yang jauh dari harga patokan pemerintah menjadi diinsentif bagi petani garam untuk meningkatkan produksi. Harus ada pembenahan pasar garam, dan revitalisasi peran BUMN PT Garam. Selanjutnya, keempat, memperbaiki sistem pergudangan. Kurang memadainya sistem pergudangan yang dapat mendukung petani garam menyebabkan manajemen stok dan pasokan dipasar tidak optimal dan tidak menguntungkan petani garam.

“Dengan berbagai perbaikan tersebut, diharapkan produksi garam akan meningkat dan kita bisa swasembada secara menyeluruh. Petani garam juga bisa sejahtera”, tegasnya.