Industri Asuransi Indonesia Masih Jauh Tertinggal

Ketua OJK, Muliaman D Hadad

JAKARTA-Minat masyarakat Indonesia untuk berasuransi masih tergolong rendah. Sampai dengan akhir September 2015, tingkat penetrasi industri asuransi konvensional baru mencapai 2,51 persen dengan densitas sebesar Rp1,1 juta. Sedangkan tingkat penetrasi dan densitas industri asuransi syariah baru mencapai 0,08% dan Rp40 ribu.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad saat menjadi pembicara kunci di acara “Insurance Day 2015” di Jakarta, Jumat (6/11).

Menurutnya, apabila dikomparasikan dengan negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand maupun dibandingkan dengan negara-negara di Eropa maupun Amerika, penetrasi Indonesia memang masih jauh tertinggal.

Sebagai ilustrasi, penetrasi asuransi di Thailand, Malaysia dan Singapore sudah bekisar antara 4,5% sd 6,5% terhadap GDP, jauh di atas Indonesia. “Sedangkan dari sisi aset industri asuransi kita, Insurance Assets terhadap GDP kita baru 7% sedangkan Thailand, Malaysia mencapai tiga kali lipat kita dan bahkan singapore mencapai 46%. Kita masih jauh tertinggal,” tuturnya.

Baca :  Sun Life Financial Ambilalih 51% Saham CIMB Sun Life

Berdasarkan catatan OJK, sampai dengan September 2015, terdapat lebih dari 137 perusahaan asuransi konvensional (yang terdiri dari perusahaan asuransi jiwa, perusahaan asuransi umum, perusahaan reasuransi, perusahaan yang menyelenggarakan asuransi wajib serta asuransi sosial), 52 perusahaan asuransi dan unit usaha yang menyelenggarakan prinsip syariah, 168 perusahaan pialang asuransi, 28 perusahaan pialang reasuransi, dan 28 perusahaan penilai kerugian/loss adjuster.

Kendati demikian, Muliaman mengaku perkembangan industri perasuransian telah meningkat setiap tahunnya sejalan dengan meningkatnya insurance minded di kalangan masyarakat. “Masyarakat kita mulai memahami bahwa asuransi merupakan bagian dari kegiatan manajemen risiko yang memberikan jaminan dan proteksi terhadap harta benda serta jiwa seseorang,” tuturnya.

Baca :  Meriahkan Hari Pelanggan Nasional, Commonwealth Life Gelar Service Week

Dia menjelaskan rendahnya penetrasi asuransi Indonesia bias menjadi peluang yang terbuka lebar untuk digarap oleh para pelaku di industri jasa keuangan.

Apalagi, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar di ASEAN dan nomor 4 terbesar di dunia dengan pertumbuhan kelas menengah yang tinggi yang mulai membutuhkan layanan beyond banking khususnya pelayanan produk asuransi untuk melindungi harta bendanya.

Tidak hanya dari sisi jumlah penduduk, Indonesia juga memiliki jumlah usaha UMKM yang sangat besar sekitar 58 juta unit usaha dan terus tumbuh tiap tahunnya. “Kita juga memiliki lahan pertanian dan peternakan yang terbentang luas dari sabang sampai merauke. Kegiatan usaha mereka ini tentunya memerlukan perlindungan asuransi untuk melindungi kelangsungan usahanya agar apabila terjadi suatu musibah tidak memiskinkan mereka. Ini merupakan pangsa pasar yang besar dan sangat disayangkan apabila kita tidak garap dengan serius,” urainya.

Baca :  Commonwealth Bank Pasarkan Reksa Dana Saham Syariah Offshore

“Namun demikian, terlepas dari besarnya peluang, masih tersimpan banyak tantangan bagi industri asuransi nasional untuk mengambil manfaatnya,” pungkasnya.