Inflasi Januari 2020 Terkendali

Inflasi
Pedagang sayuran melayani calon pembeli di Pasar Tradisional,

JAKARTA-Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2020 tetap rendah dan terkendali. Inflasi IHK pada Januari 2020 tercatat sebesar 0,39% (mtm), dipengaruhi oleh kelompok inflasi inti yang tetap terkendali dan kelompok administered yang mencatat deflasi, meskipun inflasi volatile food mengalami peningkatan.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat 2,68% (yoy), menurun dari inflasi Desember 2019 sebesar 2,72% (yoy).

“Ke depan, Bank Indonesia (BI) akan terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan inflasi 2020 tetap rendah dan stabil dalam sasarannya sebesar 3,0%±1%,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko.

Baca :  RPX Bermitra Dengan Toshiba, Sedikan Layanan Pergudangan Elektronik

Menurutnya, inflasi inti tetap terkendali sehingga mendukung terjaganya inflasi. Inflasi inti tercatat sebesar 0,19% (mtm) dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan kenaikan harga komoditas emas global, serta kenaikan tarif kontrak rumah, upah tukang bukan mandor, dan mobil sesuai pola musiman pada awal tahun.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 2,88% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,02% (yoy).

“Inflasi inti yang tetap terkendali tidak terlepas dari konsistensi kebijakan BI dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya,” terangnya.

Onny menjelaskan, kelompok administered prices yang mencatat deflasi juga mendukung terjaganya inflasi. Kelompok administered prices mengalami deflasi sebesar 0,28% (mtm), menurun dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya yang mencatat inflasi sebesar 0,63% (mtm).

Baca :  BI, OJK, dan LPS Implementasikan Integrasi Pelaporan Perbankan

Deflasi kelompok ini terutama didorong oleh kebijakan penurunan harga Bahan Bakar Khusus (BBK) dan normalisasi tarif berbagai angkutan pasca libur akhir tahun, meskipun aneka rokok mencatat inflasi sebagai dampak kenaikan cukai tembakau.

“Secara tahunan, komponen administered prices mencatat inflasi sebesar 0,64% (yoy), meningkat dari 0,51% (yoy).pada bulan sebelumnya,” ucapnya.

Dia menambahkan, inflasi volatile food meningkat akibat kenaikan harga beberapa komoditas pangan. Kelompok volatile food mencatat inflasi sebesar 1,93% (mtm), meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,86% (mtm).

Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh dampak banjir di sebagian daerah sehingga mempengaruhi produksi dan distribusi beberapa komoditas volatile food. Beberapa komoditas volatile food yang mencatat kenaikan harga antara lain aneka cabai, ikan segar, minyak goreng, beras, aneka bawang, kentang, dan tomat. S

Baca :  Ditjen Pajak Bantah Fadli Zon

ementara itu, komoditas lainnya seperti daging ayam ras dan telur ayam ras mencatat deflasi.

“Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 4,13% (yoy), melambat dari 4,30% (yoy) pada bulan sebelumnya,” pungkasnya