Intervensi BI Topang Rupiah

Friday 12 Apr 2013, 3 : 47 pm
by

JAKARTA- Analis valas PT Harvest Futures International, Tonny Mariano memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (12/4) berpotensi menguat karena  respon positif pelaku pasar setelah melihat defisit neraca perdagangan Indonesia di kuartal II-2013 yang sedikit membaik. “Rupiah diiperkirakan bergerak dalam kisaran 9.670 – 9.720 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar Tonny Mariano di Jakarta, Kamis (11/4).

Menurut dia, penguatan nilai tukar mata uang domestik, juga tidak terlepas dari intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga nilai tukar rupiah agar sesuai dengan kondisi fundamental Indonesia.

Selain itu, penerbitan global bond sebesar 3 miliar dollar AS oleh pemerintah Indonesia membuat likuiditas dollar AS meningkat.  Ini mampu menopang rupiah.  

Dia menambahkan langkag Kementerian Keuangan melelang lima seri surat utang dengan target indikatif 7 triliun rupiah sangat poitif. Banyaknya dana asing yang masuk membuat BI lebih leluasa mengintervensi pasar. “Langkah BI menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen cukup mampu mengangkat rupiah,” jelas dia

Dari eksternal kata dia, rupiah masih terimbas pelemahan dollar  AS di pasar uang. Sentimen global mulai membaik dan mata uang euro telah kembali ke level 1,31 dollar AS. Hal ini membuat tekanan terhadap rupiah mereda.” Rupiah agak menguat, dikarenakan penguatan dollar AS terhadap mata uang yen agak terhenti dan indeks harga saham gabungan di bursa saham Indonesia kembali bergerak naik setelah sepekan terakhir dilanda aksi jual,” jelas dia.

Sentimen positif ditopang oleh keyakinan investor terhadap ekonomi global. Terutama setelah Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke menyatakan kondisi perbankan Negeri Abang Sam mulai pulih setelah diterpa krisis.

Namun dollar AS kata dia tidak mendapat manfaat dari risalah pertemuan FOMC, dimana terlihat adanya indikasi bahwa the Fed berkemungkinan untuk mengakhiri program pembelian asetnya pada akhir tahun ini. “Kemungkinan besar, dollar AS melemah terhadap mata uang kuat lainnya, karena mereka menjadikan buruknya tampilan indikator payroll AS, sebagai alasan untuk mengabaikan risalah the Fed,” pungkas dia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

Prof Suwarno: Aurora Santika Pelukis Berintegritas, Sangat Otentik

JAKARTA-Kurator seni senior yang juga Dosen Program Magister Penciptaan dan

3 Kawasan Industri di Luar Pulau Jawa Dipromosikan ke Investor Jepang

JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin gencar mempromosikan potensi investasi kawasan industri