Jatuhnya Saham China dan Devaluasi Yuan Pukulan Ganda Ekspor Indonesia

JAKARTA-Kejatuhan harga saham China dan devaluasi yuan merupakan pukulan ganda bagi ekspor Indonesia. Jika penurunan harga saham China terus berlanjut dan berimbas pada kinerja sektor riil, permintaan negara itu terhadap produk impor asal Indonesia berpotensi tertekan. Sementara itu, devaluasi yuan berimbas pada pelemahan mata uang itu terhadap dolar AS dan rupiah, sehingga menyebabkan produk impor asal Indonesia menjadi lebih mahal di pasar China. Demikian hasil kajian ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seto Wardono dalam ‘Laporan Perekonomian dan Perbankan Periode Bulan Agustus 2015’ di Jakarta, Senin (31/8).

Meski cenderung turun, porsi ekspor Indonesia ke China masih cukup besar, yakni hampir mencapai 10% pada 2014. Ekspor Indonesia ke China didominasi kelompok bahan bakar mineral (termasuk batu bara), minyak organik (termasuk CPO), dan bahan kimia. Selain dampak langsung, juga ada potensi dampak negatif terhadap ekspor Indonesia melalui jalur tidak langsung, yaitu melalui ekspor Indonesia ke mitra dagang regional, terutama negara-negara ASEAN. “Pada 2014, porsi ekspor negara-negara utama ASEAN ke China berkisar 10%–13%,” urainya.

Selain berpengaruh ke ekspor Indonesia, jelasnya, gejolak ekonomi China juga berimbas ke investasi di Indonesia, baik investasi di pasar modal maupun di sektor riil. Kejatuhan harga saham China menjadi salah satu sentimen negatif yang menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) turun sebesar 2,2% sepanjang Juli 2015.

Disamping itu, juga terjadi kenaikan yield surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun sebesar 24 basis poin pada bulan itu. Di sisi lain, dampak terhadap investasi di sektor riil diperkirakan tidak besar jika melihat aliran modal dari China yang relatif tidak signifikan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi penanaman modal asing (PMA) dari China sebesar US$ 800 juta selama 2014, hanya sekitar 3% dari total PMA. Sebagai kreditor, peran China juga relatif tidak signifikan. Pada akhir 2014, tercatat hanya sekitar 3% utang luar negeri Indonesia yang bersumber dari China.

Devaluasi yuan diduga juga dapat berdampak pada kebijakan moneter AS, apalagi jika devaluasi itu berlanjut di masa mendatang. Devaluasi yuan telah menyebabkan mata uang itu dan berbagai mata uang lain melemah terhadap dolar AS. Data Federal Reserve (the Fed) menunjukkan penguatan rata-rata nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lain mencapai 1,25% selama 1–14 Agustus 2015. Sebelumnya, selama tujuh bulan pertama tahun ini, dolar AS telah menguat sekitar 6%. Apresiasi dolar AS yang berlebihan adalah faktor risiko penting bagi ekonomi AS karena akan meningkatkan tekanan deflasi. Pada Juni 2015, inflasi inti PCE (personal consumption expenditure) yang dipakai the Fed dalam menentukan kebijakan moneternya hanya mencapai sekitar 1,3% y/y, masih jauh di bawah target jangka panjang yang sebesar 2%. “Secara implisit, penguatan dolar AS sendiri bisa dikatakan sebagai cerminan kondisi moneter AS yang makin ketat, sehingga membuat kenaikan bunga acuan (Fed rate) menjadi makin tidak diperlukan,” tuturnya.

Tanpa melakukan devaluasi yuan pun, perkembangan ekonomi China sebenarnya telah menjadi perhatian the Fed dalam menetapkan kebijakan moneternya. Ini tampak jelas pada risalah (minutes) pertemuan para pembuat kebijakan the Fed (FOMC) pada 28–29 Juli 2015. Menurut risalah itu, the Fed mengungkapkan kekhawatiran pelaku usaha sektor manufaktur terhadap dampak negatif dari perlambatan ekonomi China.

Menurut penilaian beberapa anggota FOMC, perlambatan ekonomi China yang signifikan akan menjadi risiko salah satu bagi prospek ekonomi AS. China sendiri adalah pasar penting bagi produk ekspor AS. Pada 2014, porsi ekspor ke China mencapai 7,65% dari total ekspor AS, ketiga terbesar di bawah Kanada dan Meksiko.

Selain menunjukkan kekhawatiran terhadap perkembangan ekonomi China, minutes rapat FOMC di bulan Juli juga menunjukkan persepsi para pembuat kebijakan mengenai ekonomi AS yang dianggap dovish. Minutes tersebut menunjukkan pandangan para anggota FOMC yang masih beragam tentang ekonomi AS dan belum menunjukkan sinyal bahwa Fed rate akan dinaikkan pada pertemuan berikutnya di bulan September 2015. Rilis minutes ini pada 19 Agustus 2015 serta devaluasi yuan yang terjadi beberapa hari sebelumnya menurunkan probabilita kenaikan Fed rate pada September 2015. Saat itu, Fed Funds futures menunjukkan peluang kenaikan Fed rate di bulan September sebanyak 40%, turun dari 50% pada minggu sebelumnya dan 45% sebelum minutes pertemuan FOMC dirilis.

.