Jokowi Tuding Baja Impor Dorong Defisit Neraca Perdagangan

baja/beritasatu.com

JAKARTA–Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan masuknya baja impor dari luar telah mempengaruhi neraca perdagangan nasional.

Bahkan bisa dianggap menjadi salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan Indonesia. “Padahal produksi baja tersebut sudah bisa kita produksi di dalam negeri,” kata Presiden Jokowi saat memimpin Rapat Terbatas dengan topik Ketersediaan Bahan Baku Bagi Industri Baja dan Besi di Kantor Presiden Jakarta, Rabu, (11/2/2020)

Lebih jauh Presiden menambahkan data saat ini menunjukkan impor baja sudah masuk tiga besar dari total angka impor Indonesia. “Ini tentu saja menjadi salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan kita, defisit transaksi berjalan kita,” paparnya lagi.

Baca :  Wintor Produk Astra Otoparts Masuk Malaysia

Pada kesempatan itu, lanjut Presiden, rapat membahas mengenai ketersediaan bahan baku bagi industri baja dan besi. Sebagaimana diketahui bahwa industri baja besi merupakan salah satu industri strategi nasional yang diperlukan industri nasional untuk membangun infrastruktur.

”Oleh sebab itu utilitas pabrik baja dalam negeri sangat rendah dan industri baja dalam negeri menjadi terganggu. Ini tidak dapat kita biarkan terus,” katanya.

Kepala Negara menegaskan perlunya untuk mendorong industri baja dan besi makin kompetitif, kapasitas produksi makin optimal, sehingga perbaikan manajemen korporasi, pembaruan teknologi permesinan, terutama di BUMN industri baja terus dilakukan.“Tapi saya kira juga itu tidak cukup. Laporan yang saya terima pengembangan industri baja dan besi terkendala bahan baku yang masih kurang,” katanya.

Baca :  Penerapan Teknologi Menjadikan IKM Bisa Berkompetisi Global

Karena itu terdapat tiga hal utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri baja dan besi.

Hal pertama yakni memperbaiki ekosistem penyediaan bahan baku baja dan besi, kedua segera merealisasikan harga gas untuk industri yaitu sebesar 6 dolar AS per MMBTU, ketiga ditekankan ada perhitungan dampak dari impor baja terhadap kualitas maupun persaingan harga dengan baja hasil dari dalam negeri.

Dalam rapat tersebut, selain Presiden Jokowi yang didampingi Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, juga dihadiri sejumlah menteri terkait. ***